Rabu, 23 Maret 2011

Menjawab Lambang Bulan Sabit dan Bintang

Menjawab Lambang Bulan Sabit dan Bintang

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Pernahkah anda membaca atau mendengar pernyataan bodoh yang dilontarkan untuk menghina dan memfitnah Islam bahwa Islam sebenarnya menyembah Dewa Ur (Dewa Bulan)?
Seperti yang di kutib dalam buku karangan Robert Morey :
“Simbolisme DEWA BULAN adalah SABIT. Tetapi sabit bukanlah wujud aslinya (dalam keyakinan Arab).
Biasanya, di atap rumah ibadah (agama apapun) akan dipancangkan simbol dari sesembahan agama tersebut. Suatu misal, gereja. Di atas bangunan gereja, di kubahnya, biasanya ditaruh simbol salib. Kenapa salib? Karena Tuhannya Kristen adalah Yesus. Itulah kenapa
di atas rumah ibadah orang Kristen dipasang simbol salib. Jadi, simbol yang dipasang di atas rumah ibadah adalah simbol Tuhannya agama tersebut.
Nah, sekarang mesjid sebagai tempat ibadahnya agama Islam. Di atas kubah masjid, juga demikian, dipasang simbol dari tuhannya agama Islam. Siapakah tuhannya Islam? Tuhannya Islam adalah allah swt. Maka dari itu, di atas kubah masjid dipasang tulisan Arab yang artinya “allah”. Dan di lain kesempatan, bisa juga tulisan itu diganti dengan simbol bulan sabit (dan bintang). Nah, ini artinya, SABIT adalah simbolnya allah swt.
Berdasarkan temuan sejarah, SABIT (plus bintang) adalah simbol dari DEWA BULAN. Jadi ini bukan kebetulan, tapi memang benar adanya bahwa allah swt yang disembah bangsa Arab khususnya Islam adalah DEWA BULAN.
Baiklah mari kita bahas asal muasal Lambang Bulan Sabit dan Bintang dalam Islam.Ada beberapa versi pengamat sejarah mengatakan bahwa sebenarnya asal muasal lambang bulan bintang berasal dari lambang khilafah Islamiyah terakhir yang dimiliki umat Islam, yaitu Khilafah Turki Utsmani. Khilafah ini adalah warisan terakhir kejayaan umat Islam. Memiliki luas wilayah yang membentang dari ujung barat sampai ujung timur dunia. Wilayahnya mencakup tiga benua besar dunia, Afrika-Eropa dan Asia. Ibukotanya adalah kota yang sejak 1400 tahun yang lalu telah dijanjikan oleh Rasulullah SAW sebagai kota yang akan jatuh ke tangan umat Islam.
Rasulullah bersabda, “Qonstantinopel akan kalian bebaskan. Pasukan yang mampu membebaskannya adalah pasukan yang sangat kuat. Dan panglima yang membebaskannya adalah panglima yang sangat kuat..”
Berabad-abad lamanya umat Islam memimpikan realisasi kabar gembira Rasulullah itu. Namun sejak zaman Khilafa Rasyidah, Khilafah Bani Umayah hingga Khilafah Bani Abbasiyah, kabar gembira itu tidak pernah juga terealisasi. Memang sebagian Eropa sudah jatuh ke tangan Islam, yaitu wilayah Spanyol dengan kota-kotanya antara lain: Cordova, Seville, Granda dan seterusnya. Namun jantung Eropa belum pernah jatuh secara serius ke tangan Islam.
Barulah ketika Sultan Muhammad II yang lebih dikenal dengan Sultan Muhammad Al-Fatih menjadi panglima, jatuhlah kota yang pernah menjadi ibu kota Eropa itu. Lewat pertempuran yang sangat dahsyat dengan menggunakan senjata paling modern di kala itu, yaitu CANON atau meriam yang sangat besar dan suaranya memiawakkan telinga, Muhammad Al-Fatih berhasil menjatuhkan kota konstantininopel itu dan menjadikannya sebagai ibu kota Khilafah Turki Utsmani. Serta menjadikannya pusat peradaban Islam.
Wilayahnya adalah tiga benua dengan semua peradaban yang ada di dalamnya. Saat itu bulan sabit digunakan untuk melambangkan posisi tiga benua itu. Ujung yang satu menunjukkan benua Asia yang ada di Timur, ujung lainnya mewakili Afrika yang ada di bagian lain dan di tengahnya adalah Benua Eropa. Sedangkan lambang bintang menunjukkan posisi ibu kota yang kemudian diberi nama Istambul yang bermakna: Kota Islam.
Bendera bulan sabit ini adalah bendera resmi umat Islam saat itu, karena seluruh wilayah dunia Islam berada di bahwa satu naungan khilafah Islamiyah. Tidak seperti sekarang ini yang terpecah-pecah menjadi sekian ratus negara yang berdiri sendiri hasil dari jajahan barat. Wajar kalau lambang itu begitu melekat di hati umat dari ujung barat Maroko sampai ujung Timur Marauke. Inilah lambang yang pernah dimiliki oleh umat Islam secara bersama, bulan dan bintang. Dan lambang ini kemudian seolah menjadi lambang resmi umat Islam dan selalu muncul di kubah-kubah masjid. Dan kalau kita perhatikan, nyaris hampir semua kubah masjid di berbagai belahan dunia punya lambang ini.

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ وَلَيْسَ الْبِرُّ بِأَن تَأْتُوا الْبُيُوتَ مِن ظُهُورِهَا وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقَىٰ وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung. (Al-Baqarah: 189)
Tafsir Ibnu Katsir Surah Al Baqarah 189
 يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ وَلَيْسَ الْبِرُّ بِأَنْ تَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ ظُهُورِهَا وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقَى وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (189) .
Tentang sebab turun ayat ini banyak riwayat-riwayat yang dikemukakan, antara lain: (a).Menurut riwayat Ibnu Abu Hatim, para sahabat bertanya kepada Rasulullah tentang bulan sabit, maka turunlah ayat ini. Dan menurut riwayat dari Ibnu Abu Hatim juga, bentuk pertanyaan itu ialah: Untuk apa bulan itu diciptakan dengan bentuk yang demikian? Maka turunlah ayat ini. (b).Menurut riwayat Abu Nuaim dan Ibnu Asakir, bahwa Muaz bin Jabal, dan Tsa`labah bin Ganimah bertanya, "Ya Rasulullah, apa sebab bulan itu kelihatan mula-mula halus seperti benang kemudian bertambah besar lagi, sampai rata dan bundar, kemudian terus berkurang dan mengecil kembali seperti semula, dan tidak dalam satu bentuk yang tetap?" Maka turunlah ayat ini. Menurut riwayat pertama, maka yang ditanya ialah hubungan atau hikmahnya, Allah menjawab bahwa hikmahnya ialah untuk perhitungan waktu umat manusia. Dengan demikian jawaban itu sesuai dengan pertanyaan. Menurut riwayat yang kedua, bahwa yang ditanya sebab hakiki yaitu mengapa bulan itu mula-mula kecil, kemudian membesar sampai bundar, kemudian mengecil kembali sampai kepada keadaan semula? Dengan demikian jawaban tidak sesuai dengan pertanyaan karena yang dijawab ialah tentang gunanya atau hikmahnya, sedang yang ditanyakan ialah hakekatnya. Menurut riwayat kedua itu para ulama berpendapat, bahwa Allah memberikan jawaban yang lebih pantas bagi mereka untuk mengetahuinya pada waktu itu, yaitu tentang guna atau hikmahnya, bukan sebab hakikinya tentang keadaan bulan secara ilmiah. Lagi pula fungsi seorang nabi atau rasul bukanlah menjelaskan ilmu-ilmu bintang, matematika dan sebagainya. Tetapi untuk membentuk manusia-manusia mukmin yang berakhlak tinggi menempuh hidup sebagai hamba Allah untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Ini bukan berarti bahwa ajaran Alquran yang dibawa oleh Muhammad saw. mengabaikan kepentingan dan perkembangan ilmu, malah bukan sedikit ayat Alquran dan Hadis yang menyuruh untuk memperkembangkan ilmu pengetahuan duniawi sebanyak mungkin, tetapi tidak memberikan perincian, hanya memberikan petunjuk mencari dan membahas sesuai dengan kemampuan, keadaan dan perkembangan zaman, sebagai umat yang diamanatkan Allah menjadi khalifah di bumi ini. Pada ayat ini Allah mengajar Nabi Muhammad saw. menjawab pertanyaan sahabatnya tentang guna dan hikmah "bulan" bagi umat manusia, yaitu untuk keperluan perhitungan waktu dalam melaksanakan urusan ibadah mereka seperti salat, puasa, haji dan sebagainya dan juga urusan dunia yang diperlukan. Allah menerangkan perhitungan waktu itu dengan perhitungan bulan Qamariah, karena lebih mudah dari perhitungan menurut peredaran matahari (Syamsiah) dan lebih sesuai dengan tingkat pengetahuan bangsa Arab pada zaman itu. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa banyak dari golongan kaum Ansar apabila mereka telah mengerjakan ihram haji, maka mereka tidak mau lagi memasuki rumah dari pintunya yang biasa tetapi memasukinya dari belakang. Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa kebaktian atau kebajikan itu bukanlah menuruti perasaan dan tradisi yang berbau khurafat, seperti memasuki rumah dari belakang tetapi kebaktian atau kebajikan itu ialah bertakwa kepada Allah swt. Dan ditetapkan kepada mereka agar memasuki rumah dari pintunya.

Qomaruddin dan Syamsuddin

Pembaca dari kalangan Muslim mungkin akan tertawa ketika dikatakan bahwa nama-nama Cak Qomar dan Cak Udin luga kang Najam dijadikan bukti adanya penyembahan terhadap dewa bulan. Menurut Dr. Robert Morey :
  • Agama Penyembah Bulan disebut Komaruddin. Komarun = Bulan; Dinun = Agama.
Begitu juga dengan nama Syamsuddin dan Najmuddin, keduanya diterjemahkan dengan cara yang sama.
Komarun berarti bulan dan dinun berarti agama maka arti dari nama tersebut adalah "bulannya agama", maksudnya seorang yang dengan agamanya berkiprah di masyarakatnya seperti bulan yang bersinar terang benderang, membawa nama baik agamanya. Begitu syamsuddin, di harapkan oleh orang tuanya agar lebih bersinar seperti matahari yang selalu memberi manfaat kepada manusia. Nama-nama muslim yang dinisbatkan kepada dien (agama) memiliki makna senada, seperti saifuddin (pedang agama), adalah harapan orang tuanya agar anaknya mampu membela agamanya ibarat sebuah pedang yang siap dipakai kapan saja. Sedang "penyembah bulan" kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Arab ‘abid al-Qomar. Begitu juga dengan dua nama lainnya.
Masyarakat Arab pada masa pra Islam seringkali menamakan budaknya dengan nama-nama yang dapat menyenangkan hati mereka seperti nama Qomar dan Syams, diharapkan agar budaknya dapat menerangi mereka seperti namanya. Sedang untuk mereka sendiri, mereka memakai nama­nama yang menyeramkan, untuk menakuti musuh-musuhnya, seperti Kilab (anjing-anjing), Asad (singa), Namir dan Fahd (harimau). Pada masa Rasulullah nama-nama jahiliyah banyak dinisbatkan langsung pada Allah, seperti Saifullah (pedang Allah), Asadullah (Singa Allah) dan lain sebagainya. Rasulullah meluruskan kebiasaan masyarakat Arab jahiliyah bahkan pada masalah nama.
Pada masa selanjutnya ketika perbudakan sudah terhapuskan, dan para mantan budak yang membentuk komunitas tersendiri, tampil dalam pemerintahan. Mereka dikenal sebagai kaum Mawali (orang-orang yang meminta perlindungan). Untuk mendapatkan pengakuan dari masyarakat yang sebelumnya adalah tuan-tuan mereka, maka mereka menisbatkan nama-nama, mereka kepada kata din (agama). Hal ini sejalan dengan perkembangan zaman yang tidak lagi menisbatkan nama-nama kepada tuan-tuannya, sebab zaman perbudakan sudah berakhir, dan semua mereka adalah sama dalam urusan agama. Maka kita melihat bahwa nama-nama seperti Qomaruddin dan Syamsuddin tidak pernah kita temukan pada masa jahiliyah, ataupun pada masa Rasulullah, nama-nama itu baru muncul kemudian pada saat mantan budak memegang tampuk pemerintahan.
Pada masa sekarang nama-nama di atas tidak dipakai untuk menyenangkan tuan, tidak juga untuk legalitas kekuasaan. Nama-nama itu dipakai umat muslim dengan maksud yang berbeda, karena mereka hanya melihat arti dari nama-nama itu, yang diharapkan pemiliknya dapat menjadi seperti namanya.

Kepercayaan masa Jahiliyah (Pra Islam)/Agama Astral

Menurut Dr. Morey : "Allah, dewa bulan, kawin dengan dewa matahari. Mereka berdua mempunyai tiga orang puteri yang disebut putri-putri Allah. Ketiga putri tersebut AI-Lata, AI­Uzza, dan Manat". Untuk memperkuat anggapannya ia memanipulasi pernyataan Guilluame seperti yang kita ungkap sebelum ini.
Bahwa masyarakat Arab pra Islam memiliki kepercayaan terhadap bintang dan bulan juga matahari memang benar, hanya saja Dr. Morey berhenti sampai disini untuk menyatakan bahwa yang disembah oleh umat Muslim adalah dewa bulan, padahal kepercayaan yang semacam inilah yang diserang dengan keras oleh Rasulullah tanpa kompromi sedikitpun. Itulah sebabnya maka masa tersebut dikatakan sebagai masa Jahiliyyah (zaman kebodohan). Terjemah ayat-ayat berikut ini akan menggambarkan bagaimana Rasulullah secara radikal menyerang kepercayaan masyarakatnya :

Maka apakah patut bagi kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al-Lata dan Al- Uzza, dan Manat yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah). Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan; Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama­nama yang kamu dan bapak-bapak karnu mengada­adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan rnereka. Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita­citakannya (Tidak), maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia. " (QS. An-Najm 19-25).

Islam tidak pernah mengajarkan untuk menyembah bulan. Dalam firman Allah disebutkan:

"Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. " <span>(QS. Fushshilat 37)</span>

Ayat ini diperkuat dengan ayat lain, bahwa bulan bukanlah object penyembahan.

"Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalarn siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang ditentukan, dan sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan ". (QS. Luqman 29).

Jika Allah adalah "dewa bulan" seperti yang dituduhkan oleh Dr. Morey, apa mungkin "dewa bulan" menciptakan bulan untuk dipakai oleh manusia?. Dengan bukti di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa umat Islam hanya menyembah `Allah" saja, dan bukan menyembah dewa bulan. Kepercayaan terhadap kekuatan benda-benda angkasa yang pernah berkembangan di Mesir, Babilonia, serta Asiria, mungkin saja mempengaruhi Jazirah Arab, sebab secara geografis letaknya tidaklah berjauhan; Hanya saja pada masa Rasulullah kepercayaan tersebut diluruskan dengan menempatkan benda-benda tersebut pada tempat dan fungsinya. Seperti bulan -misalnya-, seperti yang pernah ditanyakan oleh masyarakatArab kepada Rasulullah, ditempatkan sebatas untuk menandakan pergantian waktu. Sebagaimana Firman Allah di Surat Al Baqarah 189:


"Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji".

Dari riwayat Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Abbas, bahwa sahabat bertanya kepada Rasulullah saw.: Untuk apa diciptakan bulan sabit?" maka turun ayat tersebut yang
memerintahkan Rasulullah untuk menjawab bahwa bulan adalah untuk menunjukkan waktu kepada manusia kapan mereka harus memakai pakaian ihram pada waktu haji dan kapan harus menanggalkannya, atau kapan mereka harus memulai puasa dan kapan harus mengakhirinya. Dari sini, dapat kita ketahui bahwa tidak ada kepentingan penyembahan kepada bulan, tetapi hanya sebagai Penunjuk pergantian waktu, seperti Haji clan Puasa. Pada masa Khalifah Umar umat Muslim membuat penanggalan berdasarkan hitungan bulan, yang dimulai sejak masa Hijrah.
Yang menarik untuk dicatat bahwa umat Yahudi juga memakai Penanggalan Hijriah untuk menandai perayaan suci mereka. Penanggalan keagamaan Umat Yahudi, yang aslinya dari Babilonia, terdiri dari 12 bulan Qomariah/Hijriah, terhitung 354 hari. Dan penghitungan hari dimulai dari tenggelamnya matahari sampai tenggelam lagi.
Maka bila dikatakan bahwa Islam menyembah "dewa bulan" dikarenakan memakai penanggalan yang berdasarkan bulan, maka apakah agama orang Yahudi, yang juga memakai penanggalan yang berdasarkan bulan ? berdasarkan "logika" Dr. Robert Morey maka umat Yahudi " juga "penyembah bulan". Demikian juga bila umat Kristen memakai penanggalan yang berdasarkan perputaran matahari, apakah mereka juga menyembah matahari ? Mari kita simak keterangan berikut ini. Penanggalan yang pertama adalah penanggalan yang berdasarkan bulan. Kebudayaan kuno, seperti Siria, Babilonia, Egypt, dan Cina telah memakai penanggalan bulan, sebagaimana budaya Semit juga mengambil penanggalan bulan untuk menandai waktu mereka. Setelah kita ketahui kenyataan bahwa umat Yahudi dan Islam, dalam tradisi budaya Semit, sama-sama memakai penanggalan Qomariah untuk menandai bulan mereka. Maka kenapa umat Kristen memakai penanggalan yang berdasarkan matahari menggantikan penanggalan bulan. Hal ini berkaitan erat dengan rekayasa perayaan natal tanggal 25 Desember clan pengaruh pemikiran-pemikiran pagan yang berporos pada penyembahan dewa Re (dewa matahari) dalam Kristen.

Sebaliknya, perhatikan kata haleluya = terpujilah dewa bulan, mereka mau menuduh dan memfitnah Islam, tatpi mereka sendiri teriak-teriak haleluya;

Nah, ini ibarat pepatah "Gajah dipelupuk mata tiada tampak, kuman di seberang lautan tampak".
"Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu. sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu" (Matius 7:3-5).

Haleluya atau aleluya, adalah terjemahan dari bahasa Ibrani הַלְלוּיָהּ Halleluyah atau Halləlûyāh (lafal Tiberias) yang intinya memiliki arti "Terpujilah Dewa Bulan tapi mereka ganti jadi Tuha...n". Haleluya banyak ditemukan dalam kitab Mazmur ayat 113 - 118 dan memiliki lafal serupa dalam banyak bahasa, namun tidak semua bahasa. Haleluya digunakan dalam agama Yahudi sebagai bagian dari doa Hallel, dan sebagai pujian kepada Tuhan dalam agama Kristen, padahal dulunya dari nenek moyang mereka kepada dewa bulan.
Bentuk aleluya diambil dari bahasa Latin dan merupakan pinjaman dari bahasa Yunani.
Dalam bahasa Ibrani, kata “Haleluyah” terdiri dari dua kata: “Hallelu” dan “Yah”. Kata “Halelu” berasal dari kata yang terdiri dari dua huruf Ibrani “he” dan “lamed”. Huruf “he” awalnya adalah gambar seorang laki-laki dengan tangan menengadah ke atas melihat ke bulan (mereka ganti jadi sesuatu) penglihatan yang menakjubkan. Sedangkan huruf “lamed” pada mulanya gambar sebuah tongkat gembala. Tongkat dipakai sang gembala untuk menggerakkan kawanan binatang ke suatu arah. Dengan demikian penggabungan dua huruf “he” dan “lamed” itu berarti “melihat ke arah”. Sedangkan kata“Yah” merupakan kependekan dari nama sebutan Tuhan, YHWH atau dalam bahasa Inggris Yahweh atau Jehovah. Dengan demikian Haleluya berarti "melihat ke arah Bulan yang mereka anggap Tuhan", seringkali juga digunakan untuk pujia-pujian kepada Tuhan. Sehingga haleluya kurang lebih juga memiliki arti "Terpujilah Tuhan, padahal Terpujilah Dewa Bulan"
Hal ini disadari oleh para pakar alkitab di Indonesia dan di situs Sabda, sehingga mereka tetap mengatakan Allah adalah nama tuhan dan YHWH adalah hanya gelar seperti halnya adonai, god, ataupun tuhan atau punking. Tapi ada orang kafir yang be...gitu sok dan ngotot mengumbar kebodohan dan kemaluan sendiri disetiap web dan bahkan buat blok sendiri untuk pamer kemaluan, dan mengatakan YHWH lah tuhan sejadi dan Allah adalah dewa bulan, tidak taunya dia membuka pengetahuan kita untuk mencari tau apa itu Yhwh ternyata para ahli memang sengaja tidak berani mengatakan bahwa YHWH adalah nama tuhan adalah suatu alasan nya karena YHWH ditemukan sebagai nama dari dewa pagan Mesir kuno. Hal yangdilakukan Duladi atau Baidowi ternyata telah membuka borok yahudi selebar-lebarnya bahwa yang mereka sembah adalah Dewa bulan.
Ok sekarang kita dalam dujul Haleluya, maka kita akan membahas Yah atau Ya atau Ia yang terdapat pada kalimat “Halelu Ya”. menurut orang-orang yahudi sebutan Haleluya berarti pujilah tuhan. “Ya”sengaja diartikan sebagai Tuhan karena kata Ya terdapat pada “Yahweh”. Benarkah Ya atau Ia atauYah adalah berarti Tuhan? Ini adalah dewa bulan, di babilonia para pagan menyebut dewa bulan dengan sebutan “Ya, Ia ataupun Yah” dewa ini bencong alias memiliki dua identitas sebagai laki-laki dan perempuan.Tidak berjenis kelamin dan tidak menikah, kemudian ada yang benarama“Shua” adalah sebutan untuk dewa langit, jadi ketika orang menggabungkankedua kata Ia dan Shua maka akan terbentuk dua dewa pagan sekaligus,yaitu Dewa bulan dan Dewa langit, jadi YahShua atau IaShua adalah sebutan nama untuk Dewa Bulan dan Dewa Langit
Suatu keanehan, alkitab memuat nama dewa bulan bangsa babilonia sebagai nama lain dari dewa bulan yaitu baal, mereka bangsa yahudi telah murtad setelah mereka mulai memuja berhala EHYEH, bulan dalam bahasa Ibrani berarti yareach, dan ini sama dengan sebutan untuk YHWH, Ibrani modern mengeja ini sengaja berbeda, untuk menyimpangkan identitas asli dari dewa pagan mesir kuno. Tapi tidak masalah, para sarjana sangat mengetahui ini adalah benar. Bukti para sarjanapun sangat berlimpah untuk bisa dan tak pernah bisa tersanggah oleh orang yahudi bahwa YHVH adalah Dewa bulan. Dan mereka para yahudi dan kristen telah lama menjadipenyembah berhala.Hal yang dilihat dan pengalaman-pengalaman bangsa bani israel selama dimesir dulu selalu membayangi bangsa bani Israel ini. Yang mana kehidupan dengan dewa-dewa dan kekuatan sihir dari mesir kuno dan majikan mereka. Mereka benar-benar tidak bisa meninggalkan tradisi yangmereka lakukan secara turun temurun sejak mereka dalam perbudakan bangsa mesir kuno.
Walau sebelumnya telah diperingatkan oleh Musa, bani Israil tetap dalam penentangan mereka, dan ketika Musa meninggalkan mereka, mendaki Gunung Sinai seorang diri, penentangan itu tampak sepenuhnya. Dengan memanfaatkan ketiadaan Musa, tampillah seorang bernama Samiri. Diameniup-niup kecenderungan bani Israil kepada apa yang dilakukan oleh majikan mereka dulu yaitu menyembah berhala. dan membujuk mereka untuk membuat patung seekor anak sapi dan menyembahnya. Konon kisah berhala tersebut terbuat dari emas yang didalamnya dimasukkan tanah pijakan Nabi Musa dan Dengan sedikit mantra yang dilihat waktu majikannya dulu berbuat sihir maka patung tersebut pun dapat berbicara, sihir itu disebut Kabbalah.
Kecenderungan bani Israil terhadap keberhalaan Mesir Kuno dan dewaYah (dewa Bulan), yang telah kita gambarkan di sini, penting untuk dipahami dan memberi kita wawasan tentang perubahan dari teks Taurat Penyisipan ajaran keberhalaan mesir kuno oleh umat yahudi ini sudahmenjadi kekhawatiran dalam diri Musa sendiri, ke khawatiran Musatertulis dalam kitab ulangan 31:26 “Ambillah kitab Taurat ini danletakkanlah di samping tabut perjanjian TUHAN, Allahmu, supaya menjadi saksi di situ terhadap engkau. 31:27 Sebab aku mengenal kedegilan dan tegar tengkukmu. Sedangkan sekarang, selagi aku hidup bersama-samadengan kamu, kamu sudah menunjukkan kedegilanmu terhadap TUHAN, terlebihlagi nanti sesudah aku mati. (takut diubah isi taurat oleh orangisrael)
Bukti penyimpangan-penyimpangan bangsa Israel kepada dewa mesir kunobanyak tercatat dalam Alkitab, seperti dalam: Bilangan 22:41 dan Num25:3, hakim-hakim 2:13, 8:33; 2raja2 23:13, 1:2, 16:16, 23:13, 1raja 211:33Mazmur 68:4 2 Tawarikh 33:3; Yehezkiel 8:16; 8:1 dan lainya.Nah kembali kepada Haleluya apakah artinya?Dalam bahasa Ibrani Halelu berarti “Puji” dan Ya adalah dewa bulan Lihat disini nama-nama dewa mesirkuno http://touregypt.net/godsofegypt/index.htmJadi haleluya artinya adalh puji dewa bulan Umat kristen terpelajar memang sangat menyembunyikan itu dan berusaha untuk mengatakan bahwa Tuhan ibrahim adalah allah, lihat situs Sabda sangat jelas YHWH diartikan sebagai gelar sebutan saja bukan nama pribadi tuhan, YHWH sama dengan Adonai, King, Tuhan, dll. Tapi KRISTEN begitu ngotot mengatakan bahwa Tuhan Ibrahim dalam alkitab adalah YHWH sampai kirim surat ke LAI untuk merubah terjemahan Tuhan jadi YHWH, gabisa dibayangin pasti orang LAI mentertawakan kebodohan ini.

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ [٤١:٣٧]
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah. (Surah Fushshilat ayat 37) Ayat ini menerangkan bahwa di antara tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah ialah adanya malam sebagai waktu istirahat siang waktu bekerja dan berusaha, matahari yang memancarkan sinarnya, bulan yang bercahaya, Dia Yang mengatur perjalanan planet-planet pada garis edarnya di cakrawala sehingga dengan demikian diketahui perhitungan tahun, bulan, hari dan waktu sebagaimana firman Allah SWT:
هو الذي جعل الشمس ضياء والقمر نورا وقدره منازل لتعلموا عدد السنين والحساب Artinya: Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). (Q.S. Yunus: 5) Setelah Allah SWT menerangkan tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Nya itu Dia memperingatkan hamba-hamba Nya, agar jangan sekali-kali bersujud kepada tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Nya itu, seperti matahari, bulan. bintang dan sebagainya. Jangan sekali-kali memuliakan. menyembah dan menganggapnya mempunyai kekuatan gaib yang ada padanya. karena semuanya itu hanya Dialah Yang menciptakan, menguasai. mengatur dan menentukan ada dan tidaknya. Seakan-akan ayat ini menerangkan dan mengingatkan bahwa manusia adalah makhluk Tuhan yang paling mulia di antara makhluk-makhluk yang diciptakan Nya. Karena itu tidak pantas manusia memuliakan, menganggap keramat dan menghormati makhluk Tuhan yang lebih rendah daripada Nya. Yang patut disembah, dimuliakan dan dihormati oleh sesuatu yang paling berkuasa dan paling mulia yaitu Allah SWT. Seandainya ada manusia yang menyembah dan memuliakan makhluk, selain Allah berarti manusia telah merendahkan martabat dirinya sendiri. Ayat ini juga memperingatkan manusia yang memperserikatkan Allah, penyembah-penyembah patung, penyembah-penyembah matahari, bulan dan bintang-bintang. Hendaklah ia menyadari kedudukannya di antara makhluk-makhluk yang lain itu.


Wallahu A’lam Bishshawaab ….

3 komentar:

  1. Subhanallah, walhamdu lillah, wa laa ilaaha illallaah

    BalasHapus
  2. hahaha..aneh...tadi disebutkan arti haleluya dalam bahasa ibrani yaitu Pujilah Yahwe..atau "Puji" "Ya"..loh kog disambung-sambugkan ke dewa mesir..dari Ibrani disambungkan ke Mesir..ya gak nyambung..jangan disambungin atuh..sekalian aja ke dewa bangsa lain yang ada kata"Ya" nya siapa tau cocok..kalo mau diartikan dalam bahasa ibrani ya harus secara utuh..dalam Ibrani itu "Ya" nya apa..jangan malah diselewengka ke Mesir

    BalasHapus
  3. Hale-terpujilah
    Lu-dewa
    Yah-bulan

    BalasHapus