Rabu, 23 Maret 2011

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (Bismillahirrahmanirrahim)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (Bismillahirrahmanirrahim)



Tafsir Ibnu Katsir
Surat Al-Fatihah ayat 1-2
اعوذ بالله السّميع العليم من الشيطان الرجيم
١_ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”
Abu Daud meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Rasulullah Salallahu ‘alahi Wasallam tidak mengetahui pemisah surat, hingga diturunkanlah Bismilahirrahmanirrahiim. Para ulama sepakat bahwa ia merupakan bagian ayat dari surah an Naml, namun mereka berikhtilaf apakah basmalah itu merupakan ayat tersendiri pada awal setiap surat, ataukah kesendiriannya itu hanya dalam surah Al Fatihah dan tidak pada surat lainnya, atau ia merupakan pemisah diantara surat.
Pendapat yang paling shahih menyatakan bahwa ia merupakan pemisah antar surat, sebagaimana tadi dikemukakan oleh Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Abu Daud.
Barangsiapa yang berpandangan bahwa ia termasuk Fatihah, berarti ia berpendapat bahwa membacanya harus zhahir dalam shalat, dan orang yang tidak berpendapat demikian, berarti membacanya secara sir (tidak keras).
Masing-masing pendapat itu dianut oleh
para sahabat sesuai dengan pandangannya sendiri. Keterangan yang menegaskan ikhwal khalifah yang empat menyebutkan bahwa mereka men-sir-kan basmalah, demikian pula beberapa kelompok tabi’in salaf dan khalaf. Men-sir-kan basmalah juga merupakan mazhab Abu Hanifah, ats Tsauri, dan Ibnu Hambal. Menurut Imam Malik basmalah itu tidak perlu dibaca, baik secara sir maupun secara zahir. Kesimpulannya, shalat orang yang membaca basmalah secara sir dan zhahir adalah sah. Hal ini berdasarkan riwayat Nabi saw dan kesepakatan para imam.
Keutamaan Basmalah
Dalam tafsirnya, Imam Abu Muhammad Abdurrahman bin Abi Hatim rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya dari Utsman bin Affan, Rasulullah saw ditanya tentang Bismilahirrahmanirrahiim, maka beliau menjawab :
“Ia merupakan salah satu nama Allah. Jarak antara Dia dan Nama Yang Agung itu hanyalah seperti jarak antara bagian hitam dan bagian putih pada mata, karena demikian dekatnya.”
Waki’ meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Mas’ud, dia berkata :
“Barangsiapa yang ingin diselamatkan dari Zabaniyah yang berjumlah 19 itu, bacalah Bismilahirrahmanirrahiim, niscaya Allah akan menjadikan setiap hurufnya sebagai benteng bagi si pembaca dari setiap Zabaniyah.”
Keterangan itu diceritakan pula oleh Ibnu Athiyah dan al Qurthubi. Kemudian Ibnu Athiyah menunjang dan menguatkan keterangan itu dengan hadits,
“Sesungguhnya aku melihat sebanyak 33 malaikat yang membuat mereka tergesa-gesa karena ucapan seseorang,”Tuhan kami bagi Engkaulah segala puji sebagai pujian yang banyak, baik dan mengandung berkah,” karena kalimat itu berjumlah 33 huruf.
٢_ الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”
“Segala puji kepunyaan Allah”,  yakni rasa syukur hanya dipersembahkan kepada Allah semata, bukan kepada perkara yang disembah selain Dia dan bukan kepada seluruh perkara yang diciptakan-Nya, karena Dia telah menganugerahkan nikmat kepada hamba-hambaNya yang tak terhingga jumlahnya dan tidak ada seorangpun, selain Dia, yang mengetahui jumlahnya, serta tidak seorang pun diantara mereka yang berhak menerima rasa syukur. Oleh karena itu, bagi Rabb kitalah segala puji, baik pada masa awal maupun akhir.
Alif dan Lam pada al hamdu ditujukan untuk mencakup segala jenis dan ragam pujian itu kepunyaan Allah Ta’ala, sebagaimana dikatakan dalam Hadits :
“Ya Allah kepunyaan Engkaulah seluruh puji, kepunyaan Engkaulah seluruh kerajaan, dalam kekuasaan Engkaulah segala kebaikan, dan kepada Engkaulah segala urusan itu kembali”
Di dalam Alquran ada 114 surah, semuanya dimulai dengan "Basmalah", kecuali surah At-Taubah. Surah At-Taubah ini tidak dimulai dengan "Basmalah" karena memang tidak serasi kalau dimulai dengan "Basmalah". Di samping pada permulaannya "Basmalah" ada disebutkan satu kali di pertengahan surah An-Naml:30; dengan demikian "Basmalah" itu didapati di dalam Alquran 114 kali.
Ada beberapa pendapat ulama berkenaan dengan "Basmalah" yang terdapat pada permulaan sesuatu surah. Di antara pendapat-pendapat itu yang termasyhur ialah:
1."Basmalah" itu adalah suatu ayat yang tersendiri, diturunkan Allah untuk jadi kepala masing-masing surah, dan pembatas antara surah dengan surah yang lain. Jadi dia bukanlah satu ayat dari Al-Fatihah atau dari sesuatu surah yang lain, yang dimulai dengan Basmalah itu. Ini adalah pendapat Imam Malik beserta ahli qiraat dan fuqaha Madinah, Basrah dan Syam dan juga pendapat Imam Abu Hanifah dan pengikut-pengikutnya. Sebab itu menurut Imam Abu Hanifah "Basmalah" itu tidak dikeraskan membacanya dalam salat bahkan Imam Malik tidak membaca Basmalah sama sekali.
2."Basmalah" adalah salah satu ayat dari Al-Fatihah, dan dari sesuatu surah yang lain, yang dimulai dengan "Basmalah". Ini adalah pendapat Imam Syafii beserta ahli qiraat Mekah dan Kufah. Sebab itu menurut mereka "Basmalah" itu dibaca dengan suara keras dalam salat (Jahar).
Kalau kita perhatikan bahwa sahabat-sahabat Rasulullah saw. telah sependapat menuliskan "Basmalah" pada permulaan sesuatu surah dan surah-surah Alquranul Karim itu, kecuali surah At-Taubah (karena memang dari semula turunnya tidak dimulai dengan Basmalah) dan bahwa Rasulullah saw. melarang menuliskan sesuatu yang bukan Alquran supaya tidak bercampur aduk dengan Alquran. Sebab itu oleh mereka tidak dituliskan "amin" di akhir surah Al-Fatihah. Basmalah itu adalah salah satu ayat dari Alquran atau dengan perkataan lain bahwa "basmalah-basmalah" yang terdapat di dalam Alquran itu adalah ayat-ayat Alquran, lepas dari pendapat apakah satu ayat dari Al-Fatihah atau dari sesuatu surah yang lain, yang dimulai dengan Basmalah atau tidak.
Sebagai disebutkan di atas surah Al-Fatihah itu terdiri dari tujuh ayat. Mereka yang berpendapat bahwa basmalah itu tidak termasuk satu ayat dari Al-Fatihah, memandang:
غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
adalah salah satu ayat, dengan demikian ayat-ayat Al-Fatihah itu tetap tujuh.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1)
"Dengan menyebut nama Allah", maksudnya "dengan menyebut nama Allah saya baca atau saya mulai". Seakan-akan Nabi berkata: "Saya baca surah ini dengan menyebut nama Allah, bukan dengan menyebut nama saya sendiri, sebab dia wahyu dari Tuhan, bukan dari saya sendiri. Maka basmalah di sini mengandung arti bahwa Alquranul Karim itu wahyu dari Allah, bukan karangan Muhammad saw. dan Muhammad itu hanyalah seorang pesuruh Allah yang dapat perintah menyampaikan Alquran kepada manusia.
Pemakaian kata "Allah"
"Allah" nama bagi Zat yang ada dengan sendiri-Nya (wajibul wujud). Kata "Allah" itu hanya dipakai oleh bangsa Arab kepada Tuhan yang sebenarnya, yang berhak disembah, yang mempunyai sifat-sifat kesempurnaan. Mereka tidak memakai kata itu untuk tuhan-tuhan atau dewa-dewa mereka yang lain.
Kata "Ar-Rahman" terambil dari "Ar-Rahmah" yang berarti "belas kasihan", yaitu suatu sifat yang menimbulkan perbuatan memberi nikmat dan karunia.
Jadi kata "Ar-Rahman" itu ialah: Yang berbuat (memberi) nikmat dan karunia yang banyak.
Kata "Ar-Rahim" juga terambil dari "Ar-Rahmah", dan arti "Rahim" ialah: Orang yang mempunyai sifat belas kasihan, dan sifat itu "tetap" padanya selama-lamanya.
Maka Ar-Rahman Ar-Rahim (Arrahmanirrahim) itu maksudnya: Tuhan itu telah memberi nikmat yang banyak dengan murah-Nya dan telah melimpahkan karunia yang tidak terhingga, karena Dia adalah bersifat belas kasihan kepada makhluk-Nya, dan oleh karena sifat belas kasihan itu adalah suatu sifat yang tetap pada-Nya maka nikmat dan karunia Allah itu tidak ada putus-putusnya.
Dengan demikian maka kata-kata "Ar-Rahman" dan "Ar-Rahim" itu kedua-duanya adalah diperlukan dalam susunan ini, karena masing-masing mempunyai arti yang khusus.
Tegasnya bila seseorang Arab mendengar orang mensifati Allah dengan Ar-Rahman, maka terpahamlah olehnya bahwa Allah itu telah melimpahkan nikmat dan karunia-Nya dengan banyak dan berlimpah-limpah. Tetapi bahwa limpahan nikmat dan karunia yang banyak itu tetap, tidak putus-putus tidak dapat dipahami dari lafaz Ar-Rahman itu saja. Karena itu perlulah diikuti dengan Ar-Rahim, supaya orang mengambil pengertian bahwa limpahan nikmat dan karunia serta kemurahan Allah itu tidak ada putus-putusnya.
Hikmah membaca basmalah
Seorang muslim disuruh membaca basmalah di waktu mengerjakan sesuatu pekerjaan yang baik. Yang demikian itu untuk mengingatkan bahwa pekerjaan yang dikerjakannya itu adalah suruhan Allah, atau karena telah diizinkan-Nya. Maka karena Allahlah dia mengerjakan pekerjaan itu dan kepada-Nya dia meminta pertolongan supaya pekerjaan itu terlaksana dengan baik dan berhasil.
Nabi saw. bersabda:
كل أمر ذي بال لايبدأ فيه ببسم الله فهو أبتر أي مقطوع الذنب ناقص
Sesuatu pekerjaan yang penting yang tidak dimulai dengan menyebut nama Allah adalah buntung, yakni tidak ada hasilnya.
Orang Arab sebelum datang Islam mengerjakan sesuatu pekerjaan adalah dengan menyebut Al-Lata dan Al-`Uzza, yaitu nama-nama berhala mereka. Sebab itu Allah swt. mengajarkan kepada penganut-penganut agama Islam yang telah mengesakan-Nya supaya mereka mengerjakan dengan menyebut nama Allah.
Tentang ini agak panjang juga pembicaraan di antara para ulama, baik Bismillah di permulaan al-Fatihah atau Bismillah di permulaan sekalian Surat al-Qur'an, kecuali pada permulaan Surat Baroah (at Taubah). Yang menjadi perbincangan ialah, apakah Bismillah di permulaan Surat itu masuk dalam Surat atau di luar Surat ? Pembicaran tentang ini selanjutnya telah menjadi sebab perbincangan pula, wajibkah imam rnembaca Bismillah itu dengan jahar (suara keras) pada sembahyang yang jahar (Maghrib, Isya dan Subuh), atau membaca dengan sir (tidak dikeraskan membacanya) melainkan Alhamdulillah selanjutnya saja ? Atau tidak dibaca sama sekali, dan hanya langsung rnenjaharkan al- Fatihah ?.
Supaya lebih mudah peninjauan kita tentang perbedaan-perbedaan pendapat para sarjana keislaman itu, terlebih dahulu kita kemukakan titik-titik pertemuan. Semuanya tidak ada selisih bahwa Bismillahir RohmanirRohim itu memang ada tertulis dalam surat 27 (an-Naml) yaitu seketika Maharani Balqis, raja perempuan dari negeri Saba menerangkan kepada orang-orang besar kerajaannya bahwa dia menerima sepucuk surat dari Nabi Sulaiman yang ditulis :
       بِِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
 "Dengan nama Alloh yang Maha Pemurah, Maha Penyayang ":
Dan titik pertemuan paham mereka yang kedua ialah bahwa menurut ajaran Rasulullah s.a.w sendiri, sekalipun surat al-Qur'an yang 114 Surat kecuali surat Baraah (At Taubah) semuanya dimulai menuliskannya dengan Bismillah itu selengkapnya, menurut yang tertulis di ayat 30 Surat an-Naml itu. Maka Mushaf pertama yang ditulis oleh panitia yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit atas perintah Khalifah pertama Saiyidina Abu Bakar itu adalah menurut yang diajarkan Nabi itu, pakai Bismillah diawal permulaan Surat, kecuali Baraah (at-Taubah). Dan Mushaf Saiyidina Usman bin Affan pun ditulis cara demikian pula. Semua pakai Bismillah, kecuali Baraah
Tentang Bismillah ada di permulaan tiap-tiap surat, kecuali surat Baraah atau at-Taubah tidaklah ada perselisihan Ulama. Yang diperselisihkan ialah terletaknya dipangkal Surat itu menjadikan dia termasuk dalam Surat itukah, atau sebagai pembatasnya dengan Surat­surat yang lainnya saja, atau dia menjadi ayat tunggal sendiri. Golongan yang terbesar dari Ulama Salaf berpendapat bahwa Bismillah di awal Surat adalah ayat pertama dari Surat itu sendiri. Beginilah pendapat Ulama Salaf Mekkah, baik Fuqahanya atau ahli Qira'at ; di antaranya ialah Tbnu Katsir dan Ulama Kufah, termasuk dua ahli Qira'at terkemuka, Ashim dan al-Kisaa-i. Dan sebagian sahabat- sahabat Rasulullah dan Tabi'in di Madinah.
Dan Imam Syafi'i di dalam fatwanya yang jadid (baru), demikian pula pengikut­pengikut beliau. Dan Sufyan as-Tsauri dan Imam Ahmad pada salah satu di antara dua katanya. Demikian pula kaum al-Imamiyah (dari Syi'ah). Demikian pula dirawikan daripada Ulama sahabat, yaitu Ali bin Abu Thalib, Abdullah bin Abbas dan Abdulloh bin Umar dan Abu Hurairoh ; dan Ulama Tabi'in, yaitu Said bin Jubair, Athoo' dan az-Zuhri dan Ibnul Mubarok
Alasan mereka ialah karena telah ijma seluruh sahabat Rasululloh s.a.w dan yang datang mereka. berpendapat bahwa Bismillah itu wajib ditulis dipangkal setiap Surat, kecuali dipangkal Surat at-Taubah. Dikuatkan lagi dengan larangan keras Rasululloh s. a.w memasukkan kalimat-kalimat lain yang bukan temasuk kepadanya, Sehingga al­-Qur'an itu bersih daripada yang bukan wahyu. Sedangkan kalimat Amin yang jelas jelas diperintahkan membacanya oleh Rasulullah sehabis selesai membaca Waladh-dhallin, terutama di belakang imam  ketika sembahyang jahar, lagi tidak boleh dimasukkan atau dicampurkan ke dalam al-Qur'an, khususnya al-Fatihah, ketika menulis Mushaf, apatah lagi menambahkan Bismillahir-Rahmanir-Rahim di pangkal tiap-tiap Surat, kecuali Surat Baraah, kalau memang dia bukan termasuk surat itu.
Pendapat mereka ini dikuatkan lagi oleh sebuah Hadits yang dirawikan oleh Imam Muslim di dalam Shahihnya, yang diterima dari Anas bin Malik, Berkata Rasulullah s.a.w
                      
"Telah diturunkan kepadaku tadi satu Surat. Lalu beliau baca : Bismilahir-Rohmanir-Rohim, sesungguhnya telah Kami berikan kepada engkau sangat banyak, maka sembahyanglah engkau kepada Tuhan engkau dan hendaklah engkau berkorban, sesungguhnya orangyangbenci kepada engkau itulah yang akanputusketurunan"
Di dalam Hadits ini jelas bahwa di antara Bismillahir Rohmanir -Rohim dibaca senafas dengan Surat yang sesudahnya. Di siniberlakulah suatu Qiyas, yakni pada Surat Inna A'thoina yang paling pendek, lagi beliau baca senafas dengan Bismillah sebagai pangkalnya, apatah lagi al­Fatihah yang menjadi ibu dari segala isi al-Qur'an. Dan apatah lagi surat-surat yang panjang-panjang.
Dan sebuah Hadits lagi yang dirawikan ad-Daruquthni dari Abu Hurairah, berkata dia : Berkata Rasulullah s.a.w :
"Apabila kamu membaca Alhamdulillah yaitu Surat al-Fatihah maka bacalah Bismilllahir-Rahmanir-Rahim, maka sesungguhnya dia adalah ibu al-Qur'an dan Tujuh yang diulang-ulang, sedang Birmillahir Rahmanir Rahim adalah salah satu daripada ayatnya."
Demikianlah pendapat dan alasan pendapat dari Ulama-ulama yang berpendirian bahwa Bismillah dipangkal tiap-tiap Surat termasuk dalam Surat itu sendiri, bukan terpisah, bukan pembatas di antara satu surat dengan surat yang lain. Tetapi satu pendapat lagi, Bismillahir-Rohmanir-Rohim di pangkal surat itu adalah ayat tunggal, diturunkan untuk menjelaskan batas atau pemisah, jangan tercampur-aduk di antara satu Surat dengan yang lain. Yang berpendapat begini ialah Imam Malik dan beberapa Ulama Madinah. Dan Imam al-Auza'i serta beberapa Ulama di Syam dan Abu Amer dan Ya'kub dari Bashrah.
Dan ada pula satu pendapat tunggal dari Imam Ahmad bin Hanbal, yaitu bahwa pada al-Fatihah sajalah Bismillahir Rohmanir Rohim itu termasuk ayat, sedang pada surat-surat yang lain tidak demikian halnya. Oleh karena masalah ini tidaklah mengenai pokok akidah, tidaklah kita salah jika kita cenderung kepada salah satu pendapat itu, mana yang lebih dekat kepada penerimaan ilmu kita sesudah turut menyelidiki. Adapun bagi penafsir mi. terlepas daripada menguatkan salah satu pendapat, maka di dalam menafsir Bismilahir-Rohmanir­-Rohim pada pembukaan al-Fatihah, kita jadikan dia ayat yang pertama, menurut Hadits Abu Hurairah yang dirawikan oleh ad-Daruquthni itu.
Dan tidak mungkin BismillahirRamanir-Rahim dimuka al-Fatihah itu disebut sebagai satu ayat pembatas dengan surat yang lain, karena tidak ada surat lain yang terlebih dahulu dari pada surat al-Fatihah.
Adapun bismillah maknanya memasukkan perkara ini, baik berupa bacaan maupun doa atau selain itu dengan nama Allah. Bukan atas kemampuanku maupun semata kekuatanku. Bahkan terjadinya perbuatan itu berkat pertolongan Allah semata, melalui keutamaan namanya yang mulia. Seluruh perbuatan ini dibacakan ketika mengawali urusan agama maupun urusan dunia. Jika engkau hadirkan dalam dirimu tatkala masuk pada bacaan dengan memohon pertolongan Allah, terlepas dari segala daya dan kekuatan lain, maka ini merupakan sebab terbesar munculnya hati dan pengusir segala penghalang kebaikan.
“Arrahmaanir rahim” merupakan dua kata pecahan dari “rahmah” yang makna salah satunya lebih luas dari lainnya. Seperti kata “allaam” dan “aliim” . Ibnu Abbas berkata, “Keduanya merupakan dua kata yang tipis perbedaannya. Salah satunya lebih tipis dari yang lainnya. Yaitu salah satunya bermakna “lebih banyak rahmatnya””.
Kesimpulan :
Bismillaahirahmaaniahiim (Dengan Menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
Para sahabat membuka Kitabullah dengan membacanya. Dan para ulama telah sepekat bahwa Bismillaahirahmaaniahiim adalah salah satu ayat dari surat an-Naml. Tetapi, mereka berbeda pendapat apakah basmalah itu ayat yang berdiri sendiri pada awal setiap surat ataukah meupakan bagian dai awal masing-masing surat dan ditulis pada pembukaannya. Ataukah merupakan salah satu ayat dari setiap surat, atau bagian dari surat Al-Fatihah saja dan bukan surat-surat lainnya. Ataukah basmalah yang ditulis di awal masing-masing surat itu hanya untuk pemisah antara surat semata dan bukan meupakan ayat. Ada beberrapa pendapat di kalangan para ulama, baik salaf maupun khalaf, dan bukan di sini tempat untuk menjelaskan itu semua.
Dalam kitab Sunan Abu Dawud diiwayatkan dengan isnad sahih, dari Ibnu Abbas ra bahwa Rasulullah saw tidak mengetahui pemisah surat Alquran sehingga turun kepadanya, bismillaahirahmaaniahiim.
Hadis di atas juga diriwayatkan al-Hakim Abu Abdillah an-Nisaburi dalam kitab al-Mustadrak.
Termasuk yang menyatakan bahwa basmalah adalah ayat dai setiap surat kecuali at-Taubah yaitu Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnu az-Zubair, Abu Hurairah, Ali. Dari kalangan tabi'in: Atha', Thawus, Sa'id bin Jubair, Makhul, dan az-Zuhri.
Hal yang sama juga dikatakan oleh Abdullah bin al-Mubarak, Imam Syafi'i, Ahmad bin Hanbal (menurut satu riwayat). Ishak bin Rahawaih, Abu Ibaid al-Qasim bin Salam ra.
Sedangkan Imam Malik dan Abu Hanifah beserta para pengikutnya bependapat bahwa basmalah itu bukan temasuk ayat Al-Fatihah, tidak juga surat-surat lainnya. Namun, menurut Dawud, basmalah teletak pada awal setiap surat dan bukan bagian dainya. Demikian pula menurut satu riwayat dai Imam Ahmad bin Hanbal.
Mengenai bacaan basmalah secara jahr (dengan suara keras), termasuk bagian dai pebedaan pendapat di atas. Mereka yang bependapat bahwa basmalah itu bukan ayat Al-Fatihah, maka ia tidak membacanya secara jahr. Demikian juga yang mengatakan bahwa basmalah adalah suatu ayat yang ditulis pada awal setiap surat.
Mereka yang berpendapat bahwa basmalah termasuk bagian pertama dari setiap surat masih berbeda pendapat. Imam Syafi'i berpendapat bahwa basmalah itu dibaca secara jahr besama Al-Fatihah dan juga surat Alquran lainnya. Inilah mazhab beberapa sahabat dan tabi'in serta para imam, baik salaf maupun khalaf.
Dalam kitab sahih al-Bukhari, diriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwa ia pernah ditanya mengenai bacaan dari Nabi saw, maka ia menjawab, "Bacaan beiau itu (kalimat demi kalimat) sesuai dengan panjang pendeknya. Kemudian Anas membaca bismillaahirrahmanirrahim, dengan memanjangkan bagian-bagian yang perlu dipanjangkan)."
Dalam Musnad Imam Ahmad, Sunan Abi Dawud, sahih Ibnu Khuzaimah, dan Mustadrak al-Hakim yang diriwayatkan dari Ummu Salamah ra, katanya, "Rasulullah saw memutus bacaannya, bismillahirrahmanirrahim, alhamdulillahirabbil'alamin, arrahmanirrahim, malikiyaumiddin."
Ad-Daraquthni mengatakan, isnad hadis ini sahih.
Ulama lainnya berpendapat bahwa basmalah tidak dibaca secara jahr di dalam salat. Inilah riwayat yang benar dari empat Khulafa 'ur-Rasyidin, Abdullah bin Mughaffal, beberapa golongan ulama salaf maupun khalaf. Hal ini juga menjadi pendapat Imam Abu Hanifah, ats-Tsauri, dan Ahmad bin Hanbal.
Menurut Imam Malik, basmalah tidak dibaca sama sekali, baik secara jahr maupun sirri. Mereka mendasarkan pada hadis yang terdapat dalam kitab sahih Muslim, dari Aisyah ra, katanya Rasulullah saw membuka salat dengan takbir dan bacaan alhamdulillahirabbil'alamin.
Juga hadis dalam kitab sahih Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik, ia menceritakan, "Aku pernah salat di belakang Nabi saw, Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Mereka semua membuka salat dengan bacaan alhamdulillahirabbil'alamin."
Menurut riwayat Muslim, "Mereka tidak menyebutkan bismillahirrahmanirrahim pada awal bacaan dan tidak juga pada akhirnya."
Hal senada juga terdapat dalam kitab Sunan, diriwayatkan dari Abdullah bin Mughaffal ra.
Demikianlah dasar-dasar pengambilan pendapat para imam mengenai masalah ini, dan tidak terjadi perbedaan pendapat, karena mereka telah sepakat bahwa salat bagi orang yang menjahrkan atau yang mensirrikan basmalah adalah sah. Segala puji bagi Allah SWT.

Sumber :
Lubabut Tafsir Min Ibnu Katsir (Tafsir Ibnu Katsir)
Syeikh Muhammad Bin Abdul Wahhab
Dipublikasikan oleh Islam Kaffah
Ternyata Ayat Suci Al-Quran ada di dalam Kromosom Manusia

Seorang ilmuwan yang penemuannya sehebat Gallileo, Newton dan Einstein yang berhasil membuktikan tentang keterkaitan antara Alquran dan rancang struktur tubuh manusia adalah Dr. Ahmad Khan. Dia adalahl ulusan Summa Cumlaude dari Duke University. Walaupun ia ilmuwan muda yang tengah menanjak, terlihat cintanya hanya untuk Allah dan untuk penelitian genetiknya. Ruang kerjanya yang dihiasi kaligrafi, kertas-kertas penghargaan, tumpukan buku-buku kumal dan kitab suci yang sering dibukanya, menunjukkan bahwa ia merupakan kombinasi dariilmuwan dan pecinta kitab suci.

Salah satu penemuannya yang menggemparkan dunia ilmu pengetahuan adalah ditemukannya informasi lain selain konstruksi Polipeptida yangdibangun dari kodon DNA. Ayat pertama yang mendorong penelitiannya adalah Surat "Fussilat" ayat 53 yang juga dikuatkan dengan hasil-hasil penemuan Profesor Keith Moore ahli embriologi dari Kanada.Penemuannya tersebut diilhami ketika Khatib pada waktu salat Jumatmembacakan salah satu ayat yang ada kaitannya dengan ilmu biologi.Bunyi ayat tersebut adalah sebagai berikut: "...Sanuriihim ayatinaafilafaaqi wa fi anfusihim hatta yatabayyana lahum annahu ul-haqq..." Yang artinya; Kemudian akan Kami tunjukkan tanda-tanda kekuasaan kamipada alam dan dalam diri mereka, sampai jelas bagi mereka bahwa iniadalah kebenaran ".

Hipotesis awal yang diajukan Dr. Ahmad Khan adalah kata "ayatinaa"yang memiliki makna "Ayat Allah", dijelaskan oleh Allah bahwa tanda-tanda kekuasaanNya ada juga dalam diri manusia. Menurut Ahmad Khanayat-ayat Allah ada juga dalam DNA (Deoxy Nucleotida Acid) manusia.Selanjutnya ia beranggapan bahwa ada kemungkinan ayat Alquran merupakan bagian dari gen manusia. Dalam dunia biologi dan genetika dikenal banyaknya DNA yang hadir tanpa memproduksi protein sama sekali. Area tanpa produksi ini disebut Junk DNA atau DNA sampah.Kenyataannya DNA tersebut menurut Ahmad Khan jauh sekali dari maknasampah. Menurut hasil hasil risetnya, Junk DNA tersebut merupakan untaian firman-firman Allah sebagai pencipta serta sebagai tandakebesaran Allah bagi kaum yang berpikir. Sebagaimana disindir oleh Allah; Afala tatafakaruun (apakah kalian tidak mau bertafakur atau menggunakan akal pikiran?).

Setelah bekerjasama dengan adiknya yang bernama Imran, seorang yang ahli dalam analisis sistem, laboratorium genetiknya mendapatkan proyek dari pemerintah. Proyek tersebut awalnya ditujukan untuk meneliti gen kecerdasan pada manusia. Dengan kerja kerasnya Ahmad Khan berupaya untuk menemukan huruf Arab yang mungkin dibentuk darirantai Kodon pada cromosome manusia. Sampai kombinasi tersebut menghasilkan ayat-ayat Alquran. Akhirnya pada tanggal 2 Januari tahun1999 pukul 2 pagi, ia menemukan ayat yang pertama "Bismillah irRahman ir Rahiim. Iqra bismirrabbika ladzi Khalq"; "bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan". Ayat tersebut adalah awal dari suratAl-A'laq yang merupakan surat pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad di Gua Hira. Anehnya setelah penemuan ayat pertama tersebut ayat lain muncul satu persatu secara cepat. Sampai sekarangia telah berhasil menemukan 1/10 ayat Alquran.

Dalam wawancara yang dikutip "Ummi" edisi 6/X/99, Ahmad Khan menyatakan: "Saya yakin penemuan ini luar biasa, dan saya mempertaruhkan karier saya untuk ini. Saya membicarakan penemuan saya dengan dua rekan saya; Clive dan Martin seorang ahli genetika yangselama ini sinis terhadap Islam. Saya menyurati dua ilmuwan lain yang selama ini selalu alergi terhadap Islam yaitu Dan Larhammar dari Uppsala University Swedia dan Aris Dreisman dari Universitas Berlin.

Ahmad Khan kemudian menghimpun penemuan-penemuannya dalam beberapa lembar kertas yang banyak memuat kode-kode genetika rantai kodon pada cromosome manusia yaitu; T, C, G, dan A masing-masing kode Nucleotida akan menghasilkan huruf Arab yang apabila dirangkai akan menjadi firman Allah yang sangat mengagumkan.

Di akhir wawancaranya Dr. Ahmad Khan berpesan "Semoga penerbitan buku saya "Alquran dan Genetik", semakin menyadarkan umat Islam, bahwaIslam adalah jalan hidup yang lengkap. Kita tidak bisa lagi memisahkan agama dari ilmu politik, pendidikan atau seni. Semoga nonmuslim menyadari bahwa tidak ada gunanya mempertentangkan ilmudengan agama. Demikian juga dengan ilmu-ilmu keperawatan. Penulis berharap akan datang suatu generasi yang mendalami prinsip-prinsipilmu keperawatan yang digali dari agama Islam. Hal ini dapat dimulai dari niat baik para pemegang kebijakan (decission maker ) yang beragama Islam baik di institusi pendidikan atau pada level pemerintah. Memfasilitasi serta memberi dukungan secara moral dan finansial.

Terbukanya tabir hati ahli Farmakologi Thailand

Profesor Tajaten Tahasen, Dekan Fakultas Farmasi Universitas ChiangMai Thailand, baru-baru ini menyatakan diri masuk Islam saat membaca makalah Profesor Keith Moore dari Amerika. Keith Moore adalah ahli Embriologi terkemuka dari Kanada yang mengutip surat An-Nisa ayat 56yang menjelaskan bahwa luka bakar yang cukup dalam tidak menimbulkan sakit karena ujung-ujung syaraf sensorik sudah hilang. Setelah pulangke Thailand Tajaten menjelaskan penemuannya kepada mahasiswanya, akhirnya mahasiswanya sebanyak 5 orang menyatakan diri masuk Islam.

Bunyi dari surat An-Nisa tersebut antara lain sebagai berkut; "Sesungguhnya orang-orang kafir terhadap ayat-ayat kami,kelak akan kami masukkan mereka ke dalam neraka, setiap kali kulitmereka terbakar hangus, kami ganti kulit mereka dengan kulit yanglain agar mereka merasakan pedihnya azab. Sesungguhnya Allah MahaPerkasa lagi Maha Bijaksana."

Ditinjau secara anatomi lapisan kulit kita terdiri atas 3 lapisanglobal yaitu; Epidermis, Dermis, dan Sub Cutis. Pada lapisan Sub Cutis banyak mengandung ujung-ujung pembuluh darah dan syaraf. Pada saat terjadi Combustio grade III (luka bakar yang telah menembus subcutis) salah satu tandanya yaitu hilangnya rasa nyeri dari pasien.Hal ini disebabkan karena sudah tidak berfungsinya ujung-ujung serabut syaraf afferent dan efferent yang mengatur sensasi persefsi.Itulah sebabnya Allah menumbuhkan kembali kulit yang rusak pada saatia menyiksa hambaNya yang kafir supaya hambaNya tersebut dapatmerasakan pedihnya azab Allah tersebut. Mahabesar Allah yang telahmenyisipkan firman-firmannya dan informasi sebagian kebesaranNya lewat sel tubuh, kromosom, pembuluh darah, pembuluh syaraf dsb. Rabbana makhalqta hada batila, Ya...Allah tidak ada sedikit pun yang engkau ciptakan itu sia-sia.

Sumber :
ahad-net
Tafsir Al-Fatihah :
Bismillah alhamdulillah wa al-shalatu wassalamu 'ala rasulillah al-fatih lima ughliq wa al-khatim lima sabaq nashiril haq bi al-haq wa alhadi ila shiratiq al-mustaqim wa 'ala alihi washohbihi haqa qadrihi wa miqdarihi al'adzim


taqdim

Selain fatihah, surat ini juga sering disebut umm al-qur'an atau umm al-kitab atau juga al-sab' al-matsanii. sebagaimana sabda rasulullah SAW :

عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: " الحمد لله أم القرآن وأم الكتاب والسبع المثاني والقرآن العظيم

Dari abi hurariah berkata : berkata rasulullah SAW : al-hamd lillah adalah ( bisa juga disebut ) umm al-qur'an atau umm al-kitab atau juga al-sab' almatsani serta al-qur'an al
'adzim.

Imam bukhari berkata, surat ini dinamakan umm al-kitab karena surat inilah yang pertama kali ditulis dalam mushaf.

Ulama berbeda beda mengenai penyebutan terhadap surat ini. dalam tafsir ibn katsir disebutkan :

وسماها سفيان بن عيينة: الواقية. وسماها يحيى بن أبي كثير: الكافية؛ لأنها تكفي عما عداها ولا يكفي ما سواها عنها، كما جاء في بعض الأحاديث المرسلة: " أم القرآن عوض من غيرها، وليس غيرها عوضا عنها "

Sufyan bin 'uyainah menyebutnya al-waqiyah. yahya bin abi katsir menyebutnya al-kafiyah, karena surat alfatihah sudah mencukupi bagi surat yang lain,sedangkan surat yang lain tidak mencukupi tanpa adanya fatihah. sebagaimana disebutkan dalam hadis mursal: Umm al-qur'an ( bisa ) sebagai pengganti bagi yang lain, tapi yang lain tidak bisa menggantikan ( kedudukan ) umm al-qur'an.

Ulama bersepakat Jumlah ayat dalam surat ini ada 7, jumlah kalimat ( Indonesia : lafadz ) 25, dan hurufnya 113.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Artinya : dengan menyebut nama allah yang maha pengasih lagi maha penyayang

Disini ada dua pembahasan :

1) apakah bismillahirrahmanirrahim dikhususkan untuk umat nabi muhamad, atau nabi-nabi sebelum nabi muhamad juga membaca bismillahirrahmanirrahim. Imam mahmud al-lusi dalam ruh al-ma'ani berkata :

وروى السيوطي فيما نقله عنه السرميني والعهدة عليه : بسم الله الرحمن الرحيم فاتحة كل كتاب ، وذهب هذا الراوي إلى أن البسملة من الخصوصيات لما روي أنه صلى الله عليه وسلم كان يكتب باسمك اللهم إلى أن نزل { بِسْمِ الله مَجْرَاهَا } [ هود : 1 4 ] فأمر بكتابة بسم الله حتى نزل : { قُلِ ادعوا الله أَوِ ادعوا الرحمن } [ الإسراء : 0 11 ] فأمر بكتابة بسم الله الرحمن إلى أن نزلت آية النمل فأمر بكتابة بسم الله الرحمن الرحيم

Imam jalal al-din suyuthy meriwayatkan, yang juga dikutip oleh sarminii : Perawi ini berpendapat bahwa bismillah khusus untuk umat muhamad SAW, sebagaimana riwayat yang datang dari nabi : beliau pertama kali menulis bismika allahuma...sampai turun ayat : bismillahi majriha ( hud : 41). kemudian beliau memerintahkan untuk menuliskan bismillah sampai turun ayat : qul ud'ullaha au ud'urrahman ( al-isra' : 110 ), kemudian beliau memerintahkan menulis bismillahirrahman. sampai akhirnya turun surat al-naml : bismillahirrahmanirrahim, hingga beliau memerintahkan menulis bismillahirrahmanirrahim.

2) apakah bismillahirrahmanirrahim yang selain ayat al-naml termasuk ayat dari al-fatihah atau bukan ? imam al-lusi dalam ruh al-ma'ani menyebut 10 pendapat :

الأول : إنها ليست آية من السور أصلاً الثاني : أنها آية من جميعها غير براءة الثالث : أنها آية من الفاتحة دون غيرها الرابع : أنها بعض آية منها فقط الخامس : أنها آية فذة أنزلت لبيان رؤوس السور تيمناً للفصل بينها السادس : أنه يجوز جعلهاآية منها وغير آية لتكرر نزولها بالوصفين . السابع : أنها بعض آية من جميع السور الثامن : أنها آية من الفاتحة وجزء آية من السور التاسع : عكسه العاشر : أنها آيات فذة وإن أنزلت مراراً

Pendapat pertama : bukan termasuk ayat dari fatihah. kedua : bismillah termasuk ayat dari semua surat dalam alqur'an selain surat bara'ah. ketiga : termasuk ayat dari fatihah, dan bukan termasuk ayat dari yang lain. keempat : termasuk sebagian ayat dari fatihah. kelima : termasuk ayat sendiri, yang tidak ada hubungannya dg surat yang lain dg tujuan menerangkan awal mula surat dan sebagai pemisah antara surat satu dg yang lain. keenam : boleh menjadikan bismillah termasuk ayat fatihah, dan boleh juga menjadikannya bukan termasuk ayat dari fatihah, karena turunnya fatihah 2 kali ( sebagian di makkah dan sebagian di madinah ). ketujuh : ayat dari semua surat dalam alqur'an. kedelapan : ayat dari fatihah, dan termasuk juznya ( bagiannya ). kesembilan : bukan termasuk ayat dari fatihah dan bukan bagian darinya. sepuluh : bukan termasuk ayat sendiri ( mustaqill ) walapun turunnya tidak sekali.

Ibnu 'abbas, ibn mubarak, penduduk makkah ( seperti ibn katsir ) dan penduduk kufah ( seperti 'ashim dan kasa'i selain hamzah, dan kebanyakan madzhab syafi'i dan syi'ah imamiah lebih cenderung pendapat kedua (bismillah termasuk ayat dari semua surat dalam alqur'an selain surat bara'ah).

Dan sebagian ulama syafi'i yang lain dan hamzah serta imam ahmad lebih cenderung pendapat yang ketiga ( termasuk ayat dari fatihah, dan bukan termasuk ayat dari yang lain ) .

Adapun penduduk madinah, diantaranya adalah imam malik, dan penduduk syam diantaranya al-auza'i, serta penduduk bashrah diantaranya abu 'amr dan ya'qub lebih cenderung pendapat yang kelima (termasuk ayat sendiri, yang tidak ada hubungannya dg surat yang lain dg tujuan menerangkan awal mula surat dan sebagai pemisah antara surat satu dg yang lain) .

Oleh karena itu, kalau kita menengok fiqh...madzhab syafi'i mewajibkan membaca bismillah dalam shalat sebelum membaca fatihah, karena beliau menganggap bismillah termasuk ayat dari fatihah. begitu juga madzhab hanbali.

Adapun madzhab maliki,tidak mewajibkan membaca bismillah sebelum membaca fatihah dalam shalat, karena tidak menganggap bismillah sebagai ayat dari fatihah.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

artinya : segala puji bagi allah, tuhan semesta alam. yang maha pengasih lagi maha penyayang.

alhamd : pujian dg perkataan/lisan atas segala seuatu yang baik/ dg tujuan mengagungkan, entah itu karena adanya nikmat ataupun tidak.

Contoh adanya Pujian karena nikmat : Andi diberi uang oleh zaid, kemudian andi mengatakan : zaid adalah orang yang dermawan

Contoh pujian tanpa adanya nikmat :"Saya melihat zaid shalat dg khusyu', kemudian saya mengatakan : zaid adalah orang yang kuat agamanya.

Kedua duanya termasuk al-hamd/pujian.

Adapun syukur adalah pujian karena nikmat. Oleh karena itu zamakhsyari dalam tafsirnya al-kasyaf berkata :

الحمد والمدح أخوان ، وهو الثناء والنداء على الجميل من نعمة وغيرها . تقول : حمدت الرجل على إنعامه ، وحمدته على حسبه وشجاعته . وأمّا الشكر فعلى النعمة خاصة وهو بالقلب واللسان والجوارح

alhamd dan madh ( keduanya bermakna pujian ) adalah saudara ( maksudnya sinonim ). pengertiannya adalah pujian atas keindahan/kebaikan karena nikmat ataupun tidak. sebagaimana perkataan anda : saya memuji laki-laki karena dia telah berjasa padaku ( ini pujian karena nikmat ). dan saya memuji laki-laki karena keberaniannya ( dan yang ini pujian tanpa nikmat ). Adapun syukur, khusus karena adanya nikmat. entah itu dg hati/lisan/anggota badan. Oleh karena itu, pujian pasti syukur, tapi kalau syukur belum tentu memuji.

rabb al-'alamiin : tuhan semesta alam.

Rabb dalam bahasa arab adalah pendidik. seorang pendidik identik dg keras dan tegas. Oleh karena itu ayat rabb al'alamiin berfaidah mengingatkan bagi pembaca alqur'an, bahwa "disana" mereka punya pendidik yang memantau semua pekerjaan dan tingkah lakunya.

adapun 'alamiin adalah lafadz jama' dari 'alam. sedangkan arti istilahnya, segala sesuatu selain allah.

Oleh karena lafadz rabb 'alamiin memberi bekas dalam hati pembaca bahwa seorang pengajar identik dg keras dan tegas, maka setelah ayat rabb 'alamiin, dibarengi dg alrahmaan al-rahiim ( yang maha pemurah lagi maha penyayang ). sehingga selain dihati pembaca terkesan bahwa allah itu tegas dan keras terhadap hambanya, juga terkesan allah itu kaya akan rahmat dan ampunan yang siap diberikan pada yang Dia kehendaki. inilah salah satu keindahan uslub ( tata bahasa )al-qur'an.

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Artinya : pengatur dihari pembalasan

Imam zamakhsyari dalam tafsirnya al-kassyaf mengatakan :

قرىء : " ملك يوم الدين " ، ومالك وملك بتخفيف اللام . وقرأ أبو حنيفة رضي الله عنه : مَلَكَ يومَ الدين ، بلفظ الفعل ونصب اليوم ، وقرأ أبو هريرة رضي الله عنه : مالكَ بالنصب . وقرأ غيره : مَلَك ، وهو نصب على المدح؛ ومنهم من قرأ : مالكٌ ، بالرفع

lafadz maalik yawmiddin terkadang menggunakan alif, tapi juga terkadang tidak. imam abu hanifah membaca "malaka yawmaddin" dg "kaf" dibaca fathah ( sebagai fi'il ) serta "mim" pada lafadz maliki yang dibaca fathah ( sebagai maf'ul dari fi'il malaka ). dan abu hurairah membaca : maalika ( dg kaf yang dibaca fathah ). dan ulama yang lain membaca : malika ( dg mim yang dibaca pendek serta kaf yang dibaca fathah ). ada juga yang membaca : maalikun ( rafa' ).

Maalik : penjaga sesuatu, disertai dg kemampuan untuk berbuat sekehndaknya.

Yawmiddin : arti bahasanya adalah segala seuatu yang diambil dari makna terbit sampai terbenamnya matahari. tapi yang dimaksud disini adalah hari kiamat sebagaimana yang disebutkan oleh jumhur mufassirin ( kebanyakan ahli tafsir ). sebagaimana dikatakan ibnu 'abbas dalam tafsir khaziin :
قال ابن عباس : مالك يوم الدين قاضي يوم الحساب

berkata ibnu 'abas : maalik yawmiddin adalah hakim dihari pembalasan.

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Artinya : kepadamu kami menyembah dan kepadamu kami meminta pertolongan

Iyyaka : dhamir munfashil yang disambung dg kaf dhamir khitab.

na'buudu : fi'il mudhari' yang dibarengi dg nun dhamir jama'.

nasta'in : dari ma'uunah. fi'il mudhari yang bermakna thalab ( meminta )

lafadz iyyaka berfaidah hashr ( pembatasan ), hingga artinya : Hanya engkau yang kami sembah, dan hanya kepadamulah kami meminta pertolongan.

Kenapa na'budu dg dhamir nun jama', bukan a'budu ( saya menyembah ) ? imam thantawi berkata dalam tafsir al-washit :

نعبد بنون الجماعة ولم يقل أعبد ليدل علي أن العبادة أحسن ما تكون في جماعة المؤمنين وللأشعار بأن المؤمنين المخلصين يكونون في اتحادهم

lafadz na'budu disebutkan dg nun jama'ah, bukan dg lafadz a'budu ( saya menyembah ) untuk menunjukkan bahwa 'ibadah itu lebih baik jika dilaksanakan bersama ( seperti shalat lebih baik jika dilaksanakan berjama'ah dll ), dan untuk menunjukkan bahwa mu'min yang ikhlas itu selalu bersatu dg mu'min yang lain.

Lafadz na'budu ( kami menyembah ) didahulukan dari lafadz nasta'in ( kami meminta tolong) karena "menyembah" adalah wasilah untuk mendapatkan "pertolongan". tanpa menyembah allah terlebih dahulu, seseorang tidak mungkin mendapatkan pertolongan. Dan mendahulukan wasilah itu lebih baik dari pada mengakhirkan.

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Artinya : tunjukanlan kami jalan yang lurus

berkata imam baghawi dalam tafsirnya ma'alim al-tanziil :

{ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ } اهدنا أرشدنا وقال علي وأبي بن كعب: ثبتنا كما يقال للقائم قم حتى أعود إليك أي دم على ما أنت عليه. وهذا الدعاء من المؤمنين مع كونهم على الهداية بمعنى التثبيت وبمعنى طلب مزيد الهداية

"Ihdina al-shirat al-mustaqhim" mempunyai makna tunjukanlah kami ( jalan yang lurus ). berkata 'ali bin abi thalib dan ubai bin ka'ab: tetapkanlah kami ( dalam agamamu ). sebagaimana dikatakan pada orang yang berdiri : tetaplah dg keadaanmu ( yang sedang berdiri ). dan ini adalah doa dari orang mukmin yang meminta hidayah ( tapi orang yang meminta tidak keluar dari hidayah ). sebagaimana orang yang sedang berdiri berkata : tetapkanlah kami dalam keadaan kami ( yang sedang berdiri ). sehingga ayat tadi mempunyai makna menetapkan, juga meminta tambahan hidayah.

Imam baghawi juga menambahkan dalam tafsirnya mengenai makna al-shirat almustaqiim :

والصراط المستقيم قال ابن عباس وجابر رضي الله عنهما: هو الإسلام وهو قول مقاتل. وقال ابن مسعود رضي الله عنه: هو القرآن

al-sirat al-mustaqim, berkata ibnu 'abbas dan jabir : maksudnya adalah islam, pendapat ini juga diusung oleh muqatil. berkata ibnu mas'ud : yang dimaksud adalah qur'an.

hingga maknanya : tunjukanlah kami, pada agama yang telah engkau turunkan pada nabimu....


صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Artinya : jalan orang-orang yang telah engkau beri nikmat bukan jalan orang yang dimurkai bukan juga orang-orang yang sesat

Dalam menafsiri ayat : shiratalladziina an'amta 'alaihim ( orang-orang yang Engkau beri nikmat ), imam mawardi berkata dalam tafsirnya Al-nukat wa al-'uyun :

وفي قوله تعالى : { الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمُ } خمسة أقاويل : أحدها : أنهم الملائكة .
والثاني : أنهم الأنبياء .
والثالث : أنهم المؤمنون بالكتب السالفة .
والرابع : أنهم المسلمون وهو قول وكيع .
والخامس : هم النبي صلى الله عليه وسلم ، ومَنْ معه مِنْ أصحابه ، وهذا قول عبد الرحمن بن زيد

Yang dimaksud dg "orang-orang yang diberi nikmat", ulama ada lima pendapat :

1) malaikat
2) para nabi
3) orang-orang yang beriman dg kitab-kitab terdahulu
4) orang muslim. ini adalah pendapat waqi'
5) nabi muhamad SAW dan orang yang bersamanya. ini adalah pendapat 'abdurrahman bin zaid.

kemudian pada ayat "ghairil maghduubi 'alaihim", imam mawardi mengutip riwayat dari 'adi bin hatim sebagai berikut :

وأما قوله : { غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ } فقد روى عن عديِّ بن حاتم قال : سألتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم ، عن المغضوب عليهم ، فقال : « هُمُ اليَهُود » وعن الضالين فقال : « هُمُ النَّصارى
» . وهو قول جميع المفسرين .

Adapun ayat " ghairil maghduubi 'alaihim wa la l-dhaallin", diriwaytkan dari 'adi bin hatim : saya bertanya pada rasulullah SAW tentang siapa yang dimaksud maghdub ( yang dimurkai ) dan siapa yang dimaksud al-dhaallin ( yang sesat ) : maka berkata rasulullah SAW : yang dimaksud maghduub adalah yahudi, dan yang dimaksud al-dhaallin adalah nasrani. ini adalah pendapat semua mufassir.

terakhir, saya akan kutipkan perkataan sayyid thantawi dalam tafsirnya al-washit, mengungkap tentang taqdim ta'khir kedua ayat diatas :

وقدم المغضوب عليهم على الضالين ، لأن معنى المغضوب عليهم كالضد لمعنى المنعم عليهم ، ولأن المقابلة بينهما أوضح منها بين المنعم عليهم والضالين ، فكان جديرًا بأن يوضع فى مقابلته قبل الضالين



Lafadz al-maghdub ( yang dimurkai ) didahulukan dari lafadz al-dhaallin ( yang sesat ), karena lafadz maghdubi 'alaihim ( yang dimurkai ) merupakan antonim dari ayat sebelumnya, yaitu : an'amta 'alaihim ( yang diberi nikmat ).Hingga untuk muqabalah ( perbandingan ), maka lebih jelas dg mendahulukan lafadz ghairulmaghduubi 'alaihim, dan mengakhirkan lafadz wa la al-dhaallin.

taqdim ta'khir yang lain adalah : ( masih dalam tafsir alwashit )


وقوله - تعالى - { غَيْرِ المغضوب عَلَيْهِم } بدل من { الذين أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ } وأتى فى وصف الإِنعام بالفعل المسند إلى الله - تعالى - فقال : { أنعمت عليهم } فى وصف الغضب باسم المفعول فقال : { غَيْرِ المغضوب عَلَيْهِم } وفى ذلك تعليم لأدب جميل ، وهو أن الإِنسان يجمل به أن يسند أفعال الإِحسان إلى الله ، ويتحامى أن يسند إليه أفعال العقاب والابتلاء ، وإن كان كل من الإِحسان والعقاب صادرًا منه ،

sebelum menerjemahkan tafsir thantawi diatas, agar tidak bingung, saya akan beri pendahuluan dulu mengenai salah satu uslub bahasa arab.

Dalam bahasa arab ada istilah badal ( pengganti ). lafadz ghairil maghduubi 'alaihim ( yang tidak dimurkai ) adalah badal ( pengganti ) dari ayat sebelumnya, yaitu ayat an'amta 'alaihim ( yang engkau beri nikmat ). sehingga seolah-olah bunyi ayatnya begini : Jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat. siapakah yang diberi nikmat ? jawabannya adalah : ghairilmaghduubi 'alaihim ( yaitu jalan orang-orang yang tidak dimurkai ).

contoh sederhana : saya memukul andi, kepalanya. Kata "kepalanya" adalah badal dari andi. hingga kalau ditanyakan : apakah yang dipukul dari andi ? jawabannya adalah "kepala andi".

Kalau kita perhatikan, lafadz "maghduub" maknanya adalah "yang dimurkai", menggunakan shighat maf'ul ( obyek ).Sedangkan lafadz sebelumnya menggunakan fi'il : an'amta. kenapa tidak mun'am 'alaihim ( yang diberi nikmat ) ? bukankah tidak munasabah ( cocok ) antara lafadz an'amta dan maghdub ? yang pertama menggunakan fi'il, yang kedua menggunakan maf'ul, padahal lafadz yang kedua adalah badal ( pengganti dari lafadz pertama )..

terjemah bebas ( agar mudah dipaham ) tafsir al-washit diatas adalah seperti ini :

Lafadz ghairil maghduubi 'alaihim sebagai badal dari an'amta 'alaihim, tapi kenapa tidak sesuai lafadznya ? yang pertama menggunakan bentuk fi'il (an'amta : yang telah engkau beri nikmat ), sedangkan badalnya menggunakan bentuk maf'ul ( maghduub : yang telah engkau beri nikmat )...jawabannya adalah :

Hikmah dibalik ini allah sedang mengajarkan kita adab yang sangat indah. yaitu menyandarkan perbuatan baik padaNya, dan menyandarkan perbuatan buruk pada hambanya. Oleh karena itu, lafadz maghduub ( yang dimurkai ), tidak menggunakan bentuk fi'il ( ghadabta : yang engkau murkai agar sesuai dg lafadz an'amta : yang engkau beri nikmat). walaupun pada hakikatnya perbuatan baik dan buruk semuanya bersumber dari allah. sebagaimana firman allah : wa in tusibhum hasanatun yaquulu hadzihi min 'indillah, wain tusibhum sayyiatun yaquulu hadzihi min 'indiq ( al-nisa :78 ) ( jika mereka terkena sesuatu yang baik, maka katakanlah ini dari allah, dan jika mereka tertimpa sesuatu yang buruk, maka katanlah ini dari diriku sendiri ).




Penjelasan Lain :

Bismillah alhamdulillah wa al-shalatu wassalamu 'ala rasulillah al-fatih lima ughliq wa al-khatim lima sabaq nashiril haq bi al-haq wa alhadi ila shiratiq al-mustaqim wa 'ala alihi washohbihi haqa qadrihi wa miqdarihi al'adzim

taqdim

Selain fatihah, surat ini juga sering disebut umm al-qur'an atau umm al-kitab atau juga al-sab' al-matsanii. sebagaimana sabda rasulullah SAW :

عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: " الحمد لله أم القرآن وأم الكتاب والسبع المثاني والقرآن العظيم

Dari abi hurariah berkata : berkata rasulullah SAW : al-hamd lillah adalah ( bisa juga disebut ) umm al-qur'an atau umm al-kitab atau juga al-sab' almatsani serta al-qur'an al
'adzim.

Imam bukhari berkata, surat ini dinamakan umm al-kitab karena surat inilah yang pertama kali ditulis dalam mushaf.

Ulama berbeda beda mengenai penyebutan terhadap surat ini. dalam tafsir ibn katsir disebutkan :

وسماها سفيان بن عيينة: الواقية. وسماها يحيى بن أبي كثير: الكافية؛ لأنها تكفي عما عداها ولا يكفي ما سواها عنها، كما جاء في بعض الأحاديث المرسلة: " أم القرآن عوض من غيرها، وليس غيرها عوضا عنها "

Sufyan bin 'uyainah menyebutnya al-waqiyah. yahya bin abi katsir menyebutnya al-kafiyah, karena surat alfatihah sudah mencukupi bagi surat yang lain,sedangkan surat yang lain tidak mencukupi tanpa adanya fatihah. sebagaimana disebutkan dalam hadis mursal: Umm al-qur'an ( bisa ) sebagai pengganti bagi yang lain, tapi yang lain tidak bisa menggantikan ( kedudukan ) umm al-qur'an.

Ulama bersepakat Jumlah ayat dalam surat ini ada 7, jumlah kalimat ( Indonesia : lafadz ) 25, dan hurufnya 113.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Artinya : dengan menyebut nama allah yang maha pengasih lagi maha penyayang

Disini ada dua pembahasan :

1) apakah bismillahirrahmanirrahim dikhususkan untuk umat nabi muhamad, atau nabi-nabi sebelum nabi muhamad juga membaca bismillahirrahmanirrahim. Imam mahmud al-lusi dalam ruh al-ma'ani berkata :

وروى السيوطي فيما نقله عنه السرميني والعهدة عليه : بسم الله الرحمن الرحيم فاتحة كل كتاب ، وذهب هذا الراوي إلى أن البسملة من الخصوصيات لما روي أنه صلى الله عليه وسلم كان يكتب باسمك اللهم إلى أن نزل { بِسْمِ الله مَجْرَاهَا } [ هود : 1 4 ] فأمر بكتابة بسم الله حتى نزل : { قُلِ ادعوا الله أَوِ ادعوا الرحمن } [ الإسراء : 0 11 ] فأمر بكتابة بسم الله الرحمن إلى أن نزلت آية النمل فأمر بكتابة بسم الله الرحمن الرحيم

Imam jalal al-din suyuthy meriwayatkan, yang juga dikutip oleh sarminii : Perawi ini berpendapat bahwa bismillah khusus untuk umat muhamad SAW, sebagaimana riwayat yang datang dari nabi : beliau pertama kali menulis bismika allahuma...sampai turun ayat : bismillahi majriha ( hud : 41). kemudian beliau memerintahkan untuk menuliskan bismillah sampai turun ayat : qul ud'ullaha au ud'urrahman ( al-isra' : 110 ), kemudian beliau memerintahkan menulis bismillahirrahman. sampai akhirnya turun surat al-naml : bismillahirrahmanirrahim, hingga beliau memerintahkan menulis bismillahirrahmanirrahim.

2) apakah bismillahirrahmanirrahim yang selain ayat al-naml termasuk ayat dari al-fatihah atau bukan ? imam al-lusi dalam ruh al-ma'ani menyebut 10 pendapat :

الأول : إنها ليست آية من السور أصلاً الثاني : أنها آية من جميعها غير براءة الثالث : أنها آية من الفاتحة دون غيرها الرابع : أنها بعض آية منها فقط الخامس : أنها آية فذة أنزلت لبيان رؤوس السور تيمناً للفصل بينها السادس : أنه يجوز جعلهاآية منها وغير آية لتكرر نزولها بالوصفين . السابع : أنها بعض آية من جميع السور الثامن : أنها آية من الفاتحة وجزء آية من السور التاسع : عكسه العاشر : أنها آيات فذة وإن أنزلت مراراً

Pendapat pertama : bukan termasuk ayat dari fatihah. kedua : bismillah termasuk ayat dari semua surat dalam alqur'an selain surat bara'ah. ketiga : termasuk ayat dari fatihah, dan bukan termasuk ayat dari yang lain. keempat : termasuk sebagian ayat dari fatihah. kelima : termasuk ayat sendiri, yang tidak ada hubungannya dg surat yang lain dg tujuan menerangkan awal mula surat dan sebagai pemisah antara surat satu dg yang lain. keenam : boleh menjadikan bismillah termasuk ayat fatihah, dan boleh juga menjadikannya bukan termasuk ayat dari fatihah, karena turunnya fatihah 2 kali ( sebagian di makkah dan sebagian di madinah ). ketujuh : ayat dari semua surat dalam alqur'an. kedelapan : ayat dari fatihah, dan termasuk juznya ( bagiannya ). kesembilan : bukan termasuk ayat dari fatihah dan bukan bagian darinya. sepuluh : bukan termasuk ayat sendiri ( mustaqill ) walapun turunnya tidak sekali.

Ibnu 'abbas, ibn mubarak, penduduk makkah ( seperti ibn katsir ) dan penduduk kufah ( seperti 'ashim dan kasa'i selain hamzah, dan kebanyakan madzhab syafi'i dan syi'ah imamiah lebih cenderung pendapat kedua (bismillah termasuk ayat dari semua surat dalam alqur'an selain surat bara'ah).

Dan sebagian ulama syafi'i yang lain dan hamzah serta imam ahmad lebih cenderung pendapat yang ketiga ( termasuk ayat dari fatihah, dan bukan termasuk ayat dari yang lain ) .

Adapun penduduk madinah, diantaranya adalah imam malik, dan penduduk syam diantaranya al-auza'i, serta penduduk bashrah diantaranya abu 'amr dan ya'qub lebih cenderung pendapat yang kelima (termasuk ayat sendiri, yang tidak ada hubungannya dg surat yang lain dg tujuan menerangkan awal mula surat dan sebagai pemisah antara surat satu dg yang lain) .

Oleh karena itu, kalau kita menengok fiqh...madzhab syafi'i mewajibkan membaca bismillah dalam shalat sebelum membaca fatihah, karena beliau menganggap bismillah termasuk ayat dari fatihah. begitu juga madzhab hanbali.

Adapun madzhab maliki,tidak mewajibkan membaca bismillah sebelum membaca fatihah dalam shalat, karena tidak menganggap bismillah sebagai ayat dari fatihah.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

artinya : segala puji bagi allah, tuhan semesta alam. yang maha pengasih lagi maha penyayang.

alhamd : pujian dg perkataan/lisan atas segala seuatu yang baik/ dg tujuan mengagungkan, entah itu karena adanya nikmat ataupun tidak.

Contoh adanya Pujian karena nikmat : Andi diberi uang oleh zaid, kemudian andi mengatakan : zaid adalah orang yang dermawan

Contoh pujian tanpa adanya nikmat :"Saya melihat zaid shalat dg khusyu', kemudian saya mengatakan : zaid adalah orang yang kuat agamanya.

Kedua duanya termasuk al-hamd/pujian.

Adapun syukur adalah pujian karena nikmat. Oleh karena itu zamakhsyari dalam tafsirnya al-kasyaf berkata :

الحمد والمدح أخوان ، وهو الثناء والنداء على الجميل من نعمة وغيرها . تقول : حمدت الرجل على إنعامه ، وحمدته على حسبه وشجاعته . وأمّا الشكر فعلى النعمة خاصة وهو بالقلب واللسان والجوارح

alhamd dan madh ( keduanya bermakna pujian ) adalah saudara ( maksudnya sinonim ). pengertiannya adalah pujian atas keindahan/kebaikan karena nikmat ataupun tidak. sebagaimana perkataan anda : saya memuji laki-laki karena dia telah berjasa padaku ( ini pujian karena nikmat ). dan saya memuji laki-laki karena keberaniannya ( dan yang ini pujian tanpa nikmat ). Adapun syukur, khusus karena adanya nikmat. entah itu dg hati/lisan/anggota badan. Oleh karena itu, pujian pasti syukur, tapi kalau syukur belum tentu memuji.

rabb al-'alamiin : tuhan semesta alam.

Rabb dalam bahasa arab adalah pendidik. seorang pendidik identik dg keras dan tegas. Oleh karena itu ayat rabb al'alamiin berfaidah mengingatkan bagi pembaca alqur'an, bahwa "disana" mereka punya pendidik yang memantau semua pekerjaan dan tingkah lakunya.

adapun 'alamiin adalah lafadz jama' dari 'alam. sedangkan arti istilahnya, segala sesuatu selain allah.

Oleh karena lafadz rabb 'alamiin memberi bekas dalam hati pembaca bahwa seorang pengajar identik dg keras dan tegas, maka setelah ayat rabb 'alamiin, dibarengi dg alrahmaan al-rahiim ( yang maha pemurah lagi maha penyayang ). sehingga selain dihati pembaca terkesan bahwa allah itu tegas dan keras terhadap hambanya, juga terkesan allah itu kaya akan rahmat dan ampunan yang siap diberikan pada yang Dia kehendaki. inilah salah satu keindahan uslub ( tata bahasa )al-qur'an.

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Artinya : pengatur dihari pembalasan

Imam zamakhsyari dalam tafsirnya al-kassyaf mengatakan :

قرىء : " ملك يوم الدين " ، ومالك وملك بتخفيف اللام . وقرأ أبو حنيفة رضي الله عنه : مَلَكَ يومَ الدين ، بلفظ الفعل ونصب اليوم ، وقرأ أبو هريرة رضي الله عنه : مالكَ بالنصب . وقرأ غيره : مَلَك ، وهو نصب على المدح؛ ومنهم من قرأ : مالكٌ ، بالرفع

lafadz maalik yawmiddin terkadang menggunakan alif, tapi juga terkadang tidak. imam abu hanifah membaca "malaka yawmaddin" dg "kaf" dibaca fathah ( sebagai fi'il ) serta "mim" pada lafadz maliki yang dibaca fathah ( sebagai maf'ul dari fi'il malaka ). dan abu hurairah membaca : maalika ( dg kaf yang dibaca fathah ). dan ulama yang lain membaca : malika ( dg mim yang dibaca pendek serta kaf yang dibaca fathah ). ada juga yang membaca : maalikun ( rafa' ).

Maalik : penjaga sesuatu, disertai dg kemampuan untuk berbuat sekehndaknya.

Yawmiddin : arti bahasanya adalah segala seuatu yang diambil dari makna terbit sampai terbenamnya matahari. tapi yang dimaksud disini adalah hari kiamat sebagaimana yang disebutkan oleh jumhur mufassirin ( kebanyakan ahli tafsir ). sebagaimana dikatakan ibnu 'abbas dalam tafsir khaziin :
قال ابن عباس : مالك يوم الدين قاضي يوم الحساب

berkata ibnu 'abas : maalik yawmiddin adalah hakim dihari pembalasan.

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Artinya : kepadamu kami menyembah dan kepadamu kami meminta pertolongan

Iyyaka : dhamir munfashil yang disambung dg kaf dhamir khitab.

na'buudu : fi'il mudhari' yang dibarengi dg nun dhamir jama'.

nasta'in : dari ma'uunah. fi'il mudhari yang bermakna thalab ( meminta )

lafadz iyyaka berfaidah hashr ( pembatasan ), hingga artinya : Hanya engkau yang kami sembah, dan hanya kepadamulah kami meminta pertolongan.

Kenapa na'budu dg dhamir nun jama', bukan a'budu ( saya menyembah ) ? imam thantawi berkata dalam tafsir al-washit :

نعبد بنون الجماعة ولم يقل أعبد ليدل علي أن العبادة أحسن ما تكون في جماعة المؤمنين وللأشعار بأن المؤمنين المخلصين يكونون في اتحادهم

lafadz na'budu disebutkan dg nun jama'ah, bukan dg lafadz a'budu ( saya menyembah ) untuk menunjukkan bahwa 'ibadah itu lebih baik jika dilaksanakan bersama ( seperti shalat lebih baik jika dilaksanakan berjama'ah dll ), dan untuk menunjukkan bahwa mu'min yang ikhlas itu selalu bersatu dg mu'min yang lain.

Lafadz na'budu ( kami menyembah ) didahulukan dari lafadz nasta'in ( kami meminta tolong) karena "menyembah" adalah wasilah untuk mendapatkan "pertolongan". tanpa menyembah allah terlebih dahulu, seseorang tidak mungkin mendapatkan pertolongan. Dan mendahulukan wasilah itu lebih baik dari pada mengakhirkan.

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Artinya : tunjukanlan kami jalan yang lurus

berkata imam baghawi dalam tafsirnya ma'alim al-tanziil :

{ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ } اهدنا أرشدنا وقال علي وأبي بن كعب: ثبتنا كما يقال للقائم قم حتى أعود إليك أي دم على ما أنت عليه. وهذا الدعاء من المؤمنين مع كونهم على الهداية بمعنى التثبيت وبمعنى طلب مزيد الهداية

"Ihdina al-shirat al-mustaqhim" mempunyai makna tunjukanlah kami ( jalan yang lurus ). berkata 'ali bin abi thalib dan ubai bin ka'ab: tetapkanlah kami ( dalam agamamu ). sebagaimana dikatakan pada orang yang berdiri : tetaplah dg keadaanmu ( yang sedang berdiri ). dan ini adalah doa dari orang mukmin yang meminta hidayah ( tapi orang yang meminta tidak keluar dari hidayah ). sebagaimana orang yang sedang berdiri berkata : tetapkanlah kami dalam keadaan kami ( yang sedang berdiri ). sehingga ayat tadi mempunyai makna menetapkan, juga meminta tambahan hidayah.

Imam baghawi juga menambahkan dalam tafsirnya mengenai makna al-shirat almustaqiim :

والصراط المستقيم قال ابن عباس وجابر رضي الله عنهما: هو الإسلام وهو قول مقاتل. وقال ابن مسعود رضي الله عنه: هو القرآن

al-sirat al-mustaqim, berkata ibnu 'abbas dan jabir : maksudnya adalah islam, pendapat ini juga diusung oleh muqatil. berkata ibnu mas'ud : yang dimaksud adalah qur'an.

hingga maknanya : tunjukanlah kami, pada agama yang telah engkau turunkan pada nabimu....


صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Artinya : jalan orang-orang yang telah engkau beri nikmat bukan jalan orang yang dimurkai bukan juga orang-orang yang sesat

Dalam menafsiri ayat : shiratalladziina an'amta 'alaihim ( orang-orang yang Engkau beri nikmat ), imam mawardi berkata dalam tafsirnya Al-nukat wa al-'uyun :

وفي قوله تعالى : { الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمُ } خمسة أقاويل : أحدها : أنهم الملائكة .
والثاني : أنهم الأنبياء .
والثالث : أنهم المؤمنون بالكتب السالفة .
والرابع : أنهم المسلمون وهو قول وكيع .
والخامس : هم النبي صلى الله عليه وسلم ، ومَنْ معه مِنْ أصحابه ، وهذا قول عبد الرحمن بن زيد

Yang dimaksud dg "orang-orang yang diberi nikmat", ulama ada lima pendapat :

1) malaikat
2) para nabi
3) orang-orang yang beriman dg kitab-kitab terdahulu
4) orang muslim. ini adalah pendapat waqi'
5) nabi muhamad SAW dan orang yang bersamanya. ini adalah pendapat 'abdurrahman bin zaid.

kemudian pada ayat "ghairil maghduubi 'alaihim", imam mawardi mengutip riwayat dari 'adi bin hatim sebagai berikut :

وأما قوله : { غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ } فقد روى عن عديِّ بن حاتم قال : سألتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم ، عن المغضوب عليهم ، فقال : « هُمُ اليَهُود » وعن الضالين فقال : « هُمُ النَّصارى
» . وهو قول جميع المفسرين .

Adapun ayat " ghairil maghduubi 'alaihim wa la l-dhaallin", diriwaytkan dari 'adi bin hatim : saya bertanya pada rasulullah SAW tentang siapa yang dimaksud maghdub ( yang dimurkai ) dan siapa yang dimaksud al-dhaallin ( yang sesat ) : maka berkata rasulullah SAW : yang dimaksud maghduub adalah yahudi, dan yang dimaksud al-dhaallin adalah nasrani. ini adalah pendapat semua mufassir.

terakhir, saya akan kutipkan perkataan sayyid thantawi dalam tafsirnya al-washit, mengungkap tentang taqdim ta'khir kedua ayat diatas :

وقدم المغضوب عليهم على الضالين ، لأن معنى المغضوب عليهم كالضد لمعنى المنعم عليهم ، ولأن المقابلة بينهما أوضح منها بين المنعم عليهم والضالين ، فكان جديرًا بأن يوضع فى مقابلته قبل الضالين



Lafadz al-maghdub ( yang dimurkai ) didahulukan dari lafadz al-dhaallin ( yang sesat ), karena lafadz maghdubi 'alaihim ( yang dimurkai ) merupakan antonim dari ayat sebelumnya, yaitu : an'amta 'alaihim ( yang diberi nikmat ).Hingga untuk muqabalah ( perbandingan ), maka lebih jelas dg mendahulukan lafadz ghairulmaghduubi 'alaihim, dan mengakhirkan lafadz wa la al-dhaallin.

taqdim ta'khir yang lain adalah : ( masih dalam tafsir alwashit )


وقوله - تعالى - { غَيْرِ المغضوب عَلَيْهِم } بدل من { الذين أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ } وأتى فى وصف الإِنعام بالفعل المسند إلى الله - تعالى - فقال : { أنعمت عليهم } فى وصف الغضب باسم المفعول فقال : { غَيْرِ المغضوب عَلَيْهِم } وفى ذلك تعليم لأدب جميل ، وهو أن الإِنسان يجمل به أن يسند أفعال الإِحسان إلى الله ، ويتحامى أن يسند إليه أفعال العقاب والابتلاء ، وإن كان كل من الإِحسان والعقاب صادرًا منه ،

sebelum menerjemahkan tafsir thantawi diatas, agar tidak bingung, saya akan beri pendahuluan dulu mengenai salah satu uslub bahasa arab.

Dalam bahasa arab ada istilah badal ( pengganti ). lafadz ghairil maghduubi 'alaihim ( yang tidak dimurkai ) adalah badal ( pengganti ) dari ayat sebelumnya, yaitu ayat an'amta 'alaihim ( yang engkau beri nikmat ). sehingga seolah-olah bunyi ayatnya begini : Jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat. siapakah yang diberi nikmat ? jawabannya adalah : ghairilmaghduubi 'alaihim ( yaitu jalan orang-orang yang tidak dimurkai ).

contoh sederhana : saya memukul andi, kepalanya. Kata "kepalanya" adalah badal dari andi. hingga kalau ditanyakan : apakah yang dipukul dari andi ? jawabannya adalah "kepala andi".

Kalau kita perhatikan, lafadz "maghduub" maknanya adalah "yang dimurkai", menggunakan shighat maf'ul ( obyek ).Sedangkan lafadz sebelumnya menggunakan fi'il : an'amta. kenapa tidak mun'am 'alaihim ( yang diberi nikmat ) ? bukankah tidak munasabah ( cocok ) antara lafadz an'amta dan maghdub ? yang pertama menggunakan fi'il, yang kedua menggunakan maf'ul, padahal lafadz yang kedua adalah badal ( pengganti dari lafadz pertama )..

terjemah bebas ( agar mudah dipaham ) tafsir al-washit diatas adalah seperti ini :

Lafadz ghairil maghduubi 'alaihim sebagai badal dari an'amta 'alaihim, tapi kenapa tidak sesuai lafadznya ? yang pertama menggunakan bentuk fi'il (an'amta : yang telah engkau beri nikmat ), sedangkan badalnya menggunakan bentuk maf'ul ( maghduub : yang telah engkau beri nikmat )...jawabannya adalah :

Hikmah dibalik ini allah sedang mengajarkan kita adab yang sangat indah. yaitu menyandarkan perbuatan baik padaNya, dan menyandarkan perbuatan buruk pada hambanya. Oleh karena itu, lafadz maghduub ( yang dimurkai ), tidak menggunakan bentuk fi'il ( ghadabta : yang engkau murkai agar sesuai dg lafadz an'amta : yang engkau beri nikmat). walaupun pada hakikatnya perbuatan baik dan buruk semuanya bersumber dari allah. sebagaimana firman allah : wa in tusibhum hasanatun yaquulu hadzihi min 'indillah, wain tusibhum sayyiatun yaquulu hadzihi min 'indiq ( al-nisa :78 ) ( jika mereka terkena sesuatu yang baik, maka katakanlah ini dari allah, dan jika mereka tertimpa sesuatu yang buruk, maka katanlah ini dari diriku sendiri ).

semoga bermanfaat.



Subhanallahi wa la ilaha illallahuallah akbar. walhamdulillahi rabbil 'alamiin.

Wallahua'lam

2 komentar: