Sabtu, 30 Juli 2011

Hadist lemah dan palsu seputar ramadhan

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

Hadits-hadits Palsu dan Lemah yang Sering Disebut di Bulan Ramadhan

Sesungguhnya segala pujian hanya bagi Allah, kami menyanjung-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, memohon ampunan kepada-Nya, dan kami juga berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami dan dari kejelekan amalan-amalan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka sungguh dia termasuk orang yang mendapatkan hidayah, dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada seorang pun yang bisa memberikan petunjuk kepadanya. Dan aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak untuk diibadahi dengan benar kecuali Allah satu-satunya, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Adapun setelah itu, bahwasanya sebaik-baik perkataan adalah Kalamullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa’ala alihi wasallam, dan bahwasanya sejelek-jelek perkara adalah segala sesuatu yang diadakan-adakan, dan segala sesuatu yang diada-adakan dalam agama ini adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.

Kemudian setelah itu, ketahuilah bahwasanya perbuatan dusta atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan penyakit berbahaya dan sulit diobati yang telah menyebar (di tengah-tengah umat) seperti menyebarnya api pada tumbuhan yang kering. Pernyakit ini merupakan penjerumus ke dalam kebid’ahan, kesesatan, khurafat, menentang dalil, serta menyimpang dari jalan yang lurus dan jalan kaum mu’minin. Berdusta atas nama nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga menyebabkan pelakunya pantas untuk mendapatkan ancaman berupa tempat duduk dari neraka.[1]

Saudara pembaca sekalian, akan kami sebutkan untuk anda beberapa hadits yang dusta (palsu) atas nama nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga hadits dha’if (lemah) yang sering disebut pada bulan yang penuh barakah ini, dengan harapan agar anda berhati-hati darinya, tidak mencampuradukkan antara al-haq dengan al-bathil, dan agar urusan (agama) anda benar-benar di atas ilmu.

HADITS PERTAMA

 
لَوْ يَعْلَمُ الْعِبَادُ مَا فِي رَمَضَانَ لَتَمَنَّتْ أُمَّتِي أَنْ يَكُوْنَ السَّنَة كُلّهَا

“Kalau seandainya hamba-hamba itu tahu apa yang ada pada bulan Ramadhan (keutamaannya), maka niscaya umatku ini akan berangan-angan bahwa satu tahun itu adalah bulan Ramadhan seluruhnya.” Hadits ini adalah hadits yang didustakan atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (palsu).

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah di dalam Shahihnya [III/190], Abu Ya’la Al-Mushili di dalam Musnadnya [IX/180], dan selain keduanya.

Di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Jarir bin Ayyub. Tentang rawi yang satu ini, para ulama telah menjelaskan keadaannya, di antaranya: Abu Nu’aim Al-Fadhl bin Dukain mengatakan bahwa dia suka memalsukan hadits. Al-Bukhari, Abu Hatim, dan Abu Zur’ah mengatakan bahwa dia adalah Munkarul Hadits. Ibnu Khuzaimah mengatakan: “Jika haditsnya shahih …”[2]

Ibnul Jauzi dalam kitabnya Al-Maudhu’at [II/103] dan juga Asy-Syaukani dalam Al-Fawa’id Al-Majmu’ah [hal. 74] menghukumi dia (Jarir bin Ayyub) adalah perawi yang suka memalsukan hadits -yakni pendusta-. Lihat Lisanul Mizan [II/302] karya Ibnu Hajar.

HADITS KEDUA

 
رَجَبٌ شَهْرُ اللهِ وَشَعْبَانُ شَهْرِيْ وَرَمَضَانُ شَهْرُ أمَّتِي

“Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku.”

Hadits ini adalah hadits yang didustakan atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (palsu).

Di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Abu Bakr An-Naqqasy. Tentang rawi yang satu ini, para ulama telah menjelaskan keadaannya, di antaranya: Thalhah bin Muhammad Asy-Syahid mengatakan bahwa Abu Bakr An-Naqqasy suka memalsukan hadits, dan kebanyakannya tentang kisah-kisah. Abul Qasim Al-Lalika’i mengatakan bahwa tafsir dari Abu Bakr An-Naqqasy justru akan mencelakakan hati, tidak menjadi obat bagi hati-hati ini.

Dan di dalamnya juga terdapat rawi yang bernama Al-Kisa’i yang dikatakan oleh Ibnul Jauzi sebagai rawi yang majhul (tidak dikenal).

Hadits ini diriwayatkan oleh Abul Fath bin Al-Fawaris di dalam Al-Amali dari Al-Hasan Al-Bashri secara mursal. Al-Hafizh Al-’Iraqi mengatakan dalam Syarh At-Tirmidzi: “Ini adalah hadits dha’if jiddan (sangat lemah), dan dia termasuk hadits-hadits mursal yang diriwayatkan dari Al-Hasan (Al-Bashri), kami meriwayatkannya dari Kitab At-Targhib Wat Tarhib karya Al-Ashfahani, hadits-hadits mursal yang diriwayatkan dari Al-Hasan (Al-Bashri) tidak bernilai (shahih) menurut Ahlul Hadits, dan tidak ada satu hadits pun yang menyebutkan tentang keutamaan bulan Rajab.”

Ibnul Jauzi dalam kitabnya Al-Maudhu’at [II/117], Adz-Dzahabi dalam Tarikhul Islam [I/2990], dan Asy-Syaukani dalam Al-Fawa’id Al-Majmu’ah [hal. 95] menghukumi bahwa hadits ini adalah hadits palsu, didustakan atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Lihat Lisanul Mizan [VI/202] karya Ibnu Hajar.


HADITS KETIGA
 
يا أيها الناس انه قد أظلكم شهر عظيم شهر مبارك فيه ليلة خير من ألف شهر فرض الله صيامه وجعل قيام ليله تطوعا فمن تطوع فيه بخصلة من الخير كان كمن أدّى فريضة فما سواه … وهو شهر أوله رحمة وأوسطه مغفرة وآخره عتق من النار

“Wahai sekalian manusia, sungguh hampir datang kepada kalian bulan yang agung dan penuh barakah, di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, Allah wajibkan untuk berpuasa pada bulan ini, dan Allah jadikan shalat pada malam harinya sebagai amalan yang sunnah, barangsiapa yang dengan rela melakukan kebajikan pada bulan itu, maka dia seperti menunaikan kewajiban pada selain bulan tersebut …, dan dia merupakan bulan yang awalnya adalah kasih sayang, pertengahannya adalah ampunan, dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka.”

Hadits ini adalah hadits munkar, dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah di dalam Shahihnya [III/191], dan beliau mengatakan: “Jika haditsnya shahih.” Maksud ungkapan ini adalah bahwa Al-Hafizh Ibnu Khuzaimah ragu (tidak memastikan) penshahihan hadits ini karena derajat sanadnya yang rendah (tidak sampai derajat shahih), maka jangan ada seorangpun yang mengira bahwa hadits ini shahih menurut Ibnu Khuzaimah. Lihat Tadribur Rawi [I/89] karya As-Suyuthi.

Hadits ini juga dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman [III/305], Al-Harits bin Usamah dalam Musnadnya [I/412], dan yang lainnya. Di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama ‘Ali bin Zaid bin Jud’an yang dikatakan oleh para ulama, di antaranya: Ibnu Khuzaimah mengatakan bahwa dia tidak bsa dijadikan hujjah karena jeleknya hafalan dia. Al-Bukhari mengatakan bahwa dia tidak bisa dijadikan hujjah. Di dalam sanadnya juga terdapat rawi yang bernama Iyas bin Abi Iyas yang dikatakan oleh para ulama, di antaranya: Adz-Dzahabi mengatakan bahwa dia adalah rawi yang tidak dikenal. Al-’Uqaili mengatakan bahwa dia adalah rawi yang majhul (tidak dikenal) dan haditsnya tidak mahfuzh (yakni syadz/ganjil). Abu Hatim mengatakan: “Ini adalah hadits Munkar.” (Al-’Ilal karya Ibnu Abi Hatim [I/249]). Lihat Lisanul Mizan [II/169] karya Ibnu Hajar, As-Siyar [V/207] karya Adz-Dzahabi, dan As-Silsilah Adh-Dha’ifah [II/262] karya Asy-Syaikh Al-Albani.

HADITS KEEMPAT

 
إذا كان أوَّل ليلة من شهر رمضان نظر الله إلى خلقِهِ الصيَّام فإذا نظر الله إلى عبدٍ لم يعذِّبْهُ أبدًا،ولله عزَّ وجَلَّ في كُلِّ يومٍ ألف عتيقٍ من النَّار

“Ketika malam pertama bulan Ramadhan, Allah melihat makhluknya, ketika Allah melihat kepada seorang hamba, maka Dia tidak akan mengadzabnya selamanya, dan Allah ‘azza wajalla pada setiap harinya memiliki seribu hamba yang dibebaskan dari neraka.”[3]

Hadits ini adalah hadits yang didustakan atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (palsu).

Di dalam sanadnya banyak rawi yang majhul (tidak dikenal) dan rawi yang dituduh berdusta yaitu ‘Utsman bin ‘Abdillah Al-Qurasyi Al-Umawi Asy-Syami yang dikatakan oleh para ulama di antaranya: Al-Juzajani menyatakan bahwa dia adalah kadzdzab (pendusta), suka mencuri hadits. Abu Mas’ud As-Sijzi menyatakan dia adalah kadzdzab.

Ibnul Jauzi di dalam Al-Maudhu’at [II/104], Ibnu ‘Arraq di dalam Tanzihusy Syari’ah [II/146], Asy-Syaukani di dalam Al-Fawa’id Al-Majmu’ah [hal. 85], dan yang lainnya menghukumi hadits ini sebagai hadits palsu, didustakan atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Lihat Lisanul Mizan [V/147] karya Ibnu Hajar.

HADITS KELIMA

 
صُوْمُوا تَصِحُّوا

“Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat.“ Ini adalah hadits dha’if, dikeluarkan oleh Al-’Uqaili dalam Adh-Dhu’afa’ [II/92], Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir [1190], dan selain mereka. Di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Zuhair bin Muhammad At-Tamimi, riwayat penduduk negeri Syam dari dia adalah riwayat yang di dalamnya banyak riwayat munkar. Dalam sanadnya yang lain, terdapat rawi yang bernama Nahsyal bin Sa’id, dan dia adalah rawi yang matruk (ditinggalkan haditsnya). Ishaq bin Rahuyah dan Abu Dawud Ath-Thayalisi menyatakan dia adalah rawi yang kadzdzab (pendusta). Di samping itu sanadnya juga terputus. Dalam sanadnya yang lain juga terdapat rawi yang bernama Husain bin ‘Abdillah bin Dhamirah Al-Himyari yang dikatakan oleh para ulama di antaranya: Al-Imam Malik menisbahkan dia sebagai rawi yang pendusta. Ibnu Ma’in menyatakan bahwa dia adalah kadzdzab (pendusta), tidak ada nilainya sedikitpun. Al-Bukhari menyatakan bahwa dia adalah munkarul hadits (kebanyakan haditsnya munkar). Abu Zur’ah menyatakan bahwa dia adalah rawi yang tidak ada nilainya sedikitpun, hinakan haditsnya (yakni yang dia riwayatkan).” Al-Hafizh Al-’Iraqi melemahkan sanadnya, dan Asy-Syaikh Al-Albani melemahkan hadits ini. [As-Silsilah Adh-Dha'ifah (253)].


HADITS KEENAM
 
أُعطِيت أمَّتِي خمس خِصالٍ في رمضان لم تُعطهنَّ أمَّةٌ قبلهم:خلوفُ فَمِ الصائم أطيبُ عند اللهِ من ريحِ المِسك،وتستغفرُ لهم الحِيتان حتي يُفطروا

“Umatku ini pada bulan Ramadhan diberi lima perangai yang tidak diberikan kepada umat sebelumnya: (1) Bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma misk,(2) Ikan-ikan memintakan ampun untuk mereka sampai berbuka …” Ini adalah hadits dha’if jiddan (sangat lemah). Dikeluarkan oleh Ahmad dalam Musnadnya [II/292, 310], Al-Harits bin Usamah dalam Musnadnya [I/410], dan selain keduanya. Di salam sanadnya terdapat rawi yang bernama Hisyam bin Ziyad bin Abi Zaid yang dikatakan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar sebagai matrukul hadits (ditinggalkan haditnya). Asy-Syaikh Al-Albani menghukumi hadits ini sebagai hadits dha’if jiddan (sangat lemah), sebagaimana dalam Dha’if At-Targhib Wat Tarhib [586].

HADITS KETUJUH

 
إِنَّ شَهْرَ رَمَضَانَ مُعَلَّقٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ لاَ يُرْفَعُ إِلاَّ بِزَكَاةِ الْفِطْرِ

“Sesungguhnya bulan Ramadhan itu tergantung di antara langit dan bumi, tidaklah bisa diangkat kecuali dengan zakat fitrah.” Ini adalah hadits dha’if. Diriwayatkan oleh Ibnu Shishri di dalam Al-Amali dan bagian hadits ini hilang, juga diriwayatkan oleh Ibnu Syahin di dalam At-Targhib, dan Ibnul Jauzi di dalam Al-’Ilal Al-Mutanahiyah [II/499]. Di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Muhammad bin ‘Ubaid yang dikatakan oleh Ibnul JAuzi bahwa dia adalah majhul (tidak dikenal). Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan setelah menyebutkan hadits ini di dalam Lisanul Mizan [V/276]: “Dia adalah rawi yang tidak ada satupun yang mengikutinya.” Asy-Syaikh Al-Albani mendha’ifkan hadits ini di dalam As-Silsilah Adh-Dha’ifah (43).

-Ditulis secara ringkas oleh Abu Zur’ah Sulaiman bin ‘Ali bin Syihab As-Salafy-. Dan diterjemahkan secara ringkas[4] pula dari http://sahab.net/forums/sh​owthread.php?t=380588 ditambah sedikit catatan kaki dari penerjemah. Wallahu a’lam bish-shawab.
[1] Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّار

“Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaknya dia mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” [Muttafaqun 'Alaihi dari shahabat Abu Hurairah, Al-Mughirah bin Syu'bah, dan yang lainnya] [2] Ungkapan seperti ini menunjukkan bahwa beliau tidak memastikan keshahihan hadits sebagaimana yang akan disebutkan dalam penjelasan hadits ketiga setelah ini. Wallahu a’lam. [3] Demikian lafazh yang tercantum dalam sumber rujukan. Namun di dalam sebagian referensi, -dengan keterbatasan pengetahuan kami-, ditemukan ada perbedaan lafazh, yaitu tentang jumlah hamba yang dibebaskan dari neraka, di referensi tersebut disebutkan berjumlah satu juta. Wallahu a’lam. [4] Sengaja bagian yang tidak kami terjemahkan adalah beberapa istilah muhadditsin atau istilah dalam ilmu hadits yang belum bisa kami terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan tepat. Tetapi insya Allah tidak akan mengubah isi dan substansi pembahasan. Wallahu a’lam.


Tambahan Hadits Palsu Tentang Puasa Secara Umum :
 
Barang siapa yang berpuasa 9 hari pada permulaan bulan Muharram, Allah akan membangun baginya sebuah mahligai di ngkasa (jaraknya) bermil-mil. (Palsu)

Barang siapa yang berpuasa pada satu hari yang terakhir dari bulan Muharram maka sesungguhnya dia telah menutup (mengakhiri) tahun lampau dan telah membuka tahun yang akan datang dengan satu pusa yang akan dijadikan oleh Allah sebagai Kaffarah baginya selama 50 tahun. (Palsu)

Sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas Bani Israil berpuasa sehari dalam setahun yaitu: pada hari yang kesepuluh dari bulan Muharram. Maka hendaklah kamu berpuasa (pada hari yang kesepuluh) dan berikanlah kelapangan atas keluarga kamu karena sesungguhnya hari itu adalah hari yang Allah menerima taubat Nabi Adam. (Palsu)

Barang siapa yang berpuasa satu hari pada bulan Rajab dan melakukan shalat 4 raka’at padanya, di raka’at pertama dia membaca ayat Kursiy 100 kali, di raka’at kedua dia membaca Qul Huwallahu ‘Ahad 100 kali, maka dia tidak akan mati melainkan sesudah dia melihat tempat duduknya didalam surga atau diperlihatkan kepadanya. (Palsu)

Barang siapa yang berpuasa pada hari ‘Asyura, akan diberi kepadanya ganjaran dari 10.000 malaikat. (Palsu)

Barang siapa yang berpuasa satu hari pada bulan Muharram maka baginya 30 kebaikan setiap harinya. (Palsu)

Barang siapa yang berpuasa sehari pada bulan Rajab (ganjarannya) sama dengan berpuasa sebulan. (Dha’if)

Barang siapa yang berpuasa 3 hari pada bulan Rajab, dituliskan baginya (ganjaran) puasa satu bulan. Dan barang siapa yang berpuasa 7 hari pada bulan Rajab maka Allah tutupkan dari padanya 7 buah pintu dari pintu-pintu api neraka. Dan barang siapa yang berpuasa 8 hari pada bulan Rajab maka Allah membukakan baginya 8 buah pintu dari pintu-pintu surga. Dan barang siapa yang berpuasa pada Nisfhu dari bulan Rajab (setengah bulan),maka akan menghisab dia dengan hisab yang sangat mudah. (Palsu)

Barang siapa yang berpuasa satu hari pada bulan Rajab, dan bangun pada malam harinya (melakukan shalat malam), maka Allah akan membangkitkan dia pada hari kiamat dalam keadaan aman, dan dia berjalan di atas shirath dalam keadaan bertahlil dan bertakbir. (Palsu)

Barang siapa yang menghidupkan satu malam dari bulan Rajab (melakukan shalat malam) dan berpuasa padanya satu hari, maka Allah memberi makan kepadanya dari buah-buahan surga. (Palsu)

Pada permulaan malam bulan Dzil Hijjah Ibrahim di lahirkan. Barang siapa yang berpuasa pada hari itu adalah menjadi kaffarah baginya 60 tahun. (Palsu)

Barang siapa yang berpuasa pada hari Tarwiyah (tgl. 8 dzil hijjah), Allah akan memberikan kepadanya ganjaran sebagaimana ganjarannya Nabi Ayyub atas bala’ yang menimpa dirinya, jika dia berpuasa pada hari Arafah, maka Allah memberi ganjaran kepadanya sebagaimana ganjaran Nabi Isa a.s, jika dia tidak makan pada hari nahar (tgl. 10 dzil hijjah) sehingga dia melakukan shalat, maka Allah memberi kepadanya ganjaran orang-orang yang melakukan shalat pada hari itu, kemudian apabila dia meninggal sesudah 30 hari dari hari itu maka dia termasuk orang yang mati syahid. (Palsu)

Tidak ada satu hari yang paling utama dari hari-hari puasa melainkan puasa pada bulan Ramadhan dan pada hari ‘Asyura. (Mungkar)

Barang siapa yang berbuka puasa (tidak puasa) dalam sehari pada bulan Ramadhan dengan tidak ada sebab, maka wajib atasnya berpuasa satu bulan. (Dha’if)

Barang siapa yang menyediakan buka puasa di rumahnya pada hari ‘Asyura, maka seolah-olah telah berbuka puasa disisinya seluruh ummat Muhamad SAW. (Palsu)

Apabila pada permulaan malam dari bulan Ramadhan, Allah memperhatikan kepada hamba-Nya yang berpuasa. Dan bila Allah telah memperhatikan kepada seorang hamba, maka Allah tidak akan menyiksa kepadanya. (dan pada lain riwayat): Apabila pada malam Nishfi (Ramadhan) dan riwayat lain: apabila pada malam kedua puluh lima. (Palsu)

Sesungguhnya Allah telah memberi wahyu kepada para malaikat agar supaya janganlah kamu mencatat sesuatu kejelekan dari hamba-hamba-Ku yang berpuasa sesudah waktu Ashar. (Bathil)

Barang siapa yang berpuasa pada hari rabu dan kamis, dia akan dicatat sebagai orang yang selamat dari pada api neraka. (Dha’if)

Doa berbuka puasa yang di ucapkan oleh Nabi: Allaahumma Inny As-aluka Birahmatika Latiy Wasi’at Kulla Syai-in An Taghfiraliy, artinya : Ya Allah, sesungguhnya dengan Rahmat-Mu yang telah memenuhi segala sesuatu yang berada di alam ini, aku memohon kepada-Mu supaya Engkau memberi maghfirah-Mu kepadaku. (Dha’if)

Tidak akan berpuasa seorang muslim melainkan pada waktu dia berbuka dia mengucapkan: Yaa ‘Adhiimu, Yaa ‘Adhimu, anta Ilaahy Laa Ilaaha Ghairuka, Ighfir Ly Adz-dzambal ‘Adhiima Fa-Innahuu Laa Yaghfirudz-dzambal ‘Adhiima Illal ‘Adhiimu, (melainkan) akan hilanglah dosa-dosanya sebagaimana pada waktu dia di lahirkan oleh ibunya. Nabi berkata: ajarkanlah pada orang sesudah kamu karena sesungguhnya kalimat ini sangat di senangi oleh Allah dan rasul-Nya dan dapat memperbaiki perkara-perkara dunia dan akhirat. (Dha’if)

Barang siapa yang bangun pagi pada hari jum’at dalam keadaan berpuasa dan dia mengunjungi orang yang sedang sakit serta memberi makan kepada orang miskin dam mengikuti jenazah orang yang meninggal, tidak akan kena kepadanya dosa selama 40 tahun. (Palsu)

Barang siapa yang berpuasa pada hari syak, maka sesungguhnya dia telah durhaka kepada Abal Qasiim (Nabi SAW.) (ucapan ‘Ammar bin Yaasir)

Barang siapa yang berbuka puasa dengan buah kurma yang halal, ganjaran shalatnya di tambah menjadi 400 shalat. (Palsu)

Hari puasa kamu adalah hari qurban kamu. (Tidak ada asalnya)


Hadits Dhaif tentang Ramadhan dari Silsilah Hadits Dhaif, Syeikh Nasyiruddin Al-Bani :

كان يصلي في شهر رمضان في غير جماعة بعشرين ركعة والوتر ( موضوع ) _ وهوخلاف حديث عائشة قالت ما كان النبي صلى الله عليه وسلم يزيد في رمضان ولا في غيره على إحدى عشرة ركعة رواه الشيخان

"Rasulullah saw. melakukan shalat pada bulan Ramadhan --tidak berjamaah— sebanyak dua puluh rakaat dan witir. " [palsu]

Hadits ini bertentangan dengan hadits dari Aisyah ra, yang mengatakan bahwa Rasulullah saw shalat tidak pernah lebih dari sebelas rakaat, baik pada bulan Ramadhan ataupun bukan.

إن الجنة لتزخرف لرمضان من رأس الحول إلى الحول فإذا كان أول ليلة من رمضان هبت ريح من تحت العرش فصفقت ورق الجنة عن الحور العين فقلن يا رب اجعل لنا من عبادك أزواجا تقر بهم أعيننا وتقر أعينهم بنا . ( منكر ) _

"Sesungguhnya surga dihias untuk Ramadhan dari awal tahun hingga akhir tahun. Apabila tiba awal malam bulan Ramadhan, berhembuslah angin dari bawah singgasana seraya menggerakkan daun-daun surga dari para bidadari seraya mereka berkata, 'Ya Rabb, jadikanlah kami sebagai istri bagi hamba-hambamu yang dapat menjadi penyejuk mata mereka dan menjadikan mereka sebagai penyejuk mata bagi kami.'"

ألف رمضان فيما سواها من البلدان وجمعة بالمدينة خير من ألف جمعة فيما سواها من البلدان (باطل)

"(Puasa) Ramadhan di Madinah lebih baik seribu kali daripada (puasa) Ramadhan di tempat lain, dan melakukan shalat Jum 'at di Madinah lebih baik seribu kali ketimbang melakukan shalat jum'at di tempat lain di negeri mana pun."

من أدرك رمضان بمكة فصام وقام منه ما تيسر له كتب الله له مائة ألف شهر رمضان فيما سواها وكتب الله له بكل يوم عتق رقبة وكل ليلة عتق رقبة وكل يوم حملان فرس في سبيل الله وفي كل يوم حسنة وفي كل ليلة حسنة (موضوع)

"Barangsiapa mendapatkan Ramadhan di Mekkah, kemudian ia berpuasa dan mengamalkan shalat malam sesuai kemampuannya, maka Allah akan mencatat baginya (pahala) seratus ribu pahala Ramadhan di tempat lain, Allah juga mencatat baginya setiap hari dan malamnya {seperti pahala) membebaskan budak, dan setiap harinya diberi (pahala) menyediakan kuda perang fi sabilillah, serta setiap hari dan malamnya diberi (pahala) amalan kebaikan."

لرباط يوم في سبيل الله من وراء عورة المسلمين محتسبا من غيرشهر رمضان أعظم أجرا من عبادة مائة سنة صيامها وقيامها ورباط يوم في سبيل الله من وراء عورة المسلمين محتسبا من شهر رمضان أفضل عند الله وأعظم أجرا _ أراه قال _ من عبادة ألف سنة صيامها وقيامها فإن رده الله سالما لم تكتب عليه سيئة ألف سنة وتكتب له الحسنات ويجري له أجر الرباط إلى يوم القيامة (موضوع)

"Satu hari berjaga-jaga dalam peperangan fii sabilillah karena mengharapkan ridha Allah dan bukan pada bulan Ramadhan adalah lebih besar pahalanya dibandingkan beribadah seratus tahun dengan puasa dan shalat malamnya, Dan sehari berjaga-jaga dalam peperangan fi sabilillah karena mengharapkan ridha Allah pada bulan Ramadhan adalah lebih besar pahalanya dari beribadah selama seribu tahun dengan puasa dan shalat malamnya. Dan apabila ia dikembalikan kepada keluarganya dengan selamat, maka tidak akan dicatat dosanya selama seribu tahun, bahkan yang ditulis baginya kebaikan-kebaikannya, serta diberinya pahala kewaspadaan dan berjaga-jaga hingga hari kiamat."

صلاة الجمعة في المدينة كألف صلاة فيما سواها وصيام شهر رمضان في المدينة كصيام ألف شهر فيما سواها . ( موضوع يهذا اللفظ ) _

"Pahala mengerjakan shalat Jum'at di Madinah, bagaikan pahala melakukan shalat seribu kali di tempat lain, dan berpuasa Ramadhan di Madinah, bagaikan berpuasa seribu bulan di tempat lain."

من كانت له حمولة تأوي إلى شبع ( وري ) فليصم رمضان حيث أدركه (ضعيف)

Barangsiapa mempunyai kendaraan yang dapat menyampaikannya ke tempat makanan yang dapat menjadikannya kenyang (serta tidak lelah dan susah dalam perjalanannya), maka hendaklah ia berpuasa Ramadhan bila menjumpainya."

نسخ الأضحى كل ذبح وصوم رمضان كل صوم والغسل من الجنابة كل غسل والزكاة كل صدقة . ( ضعيف جدا )

"Sembelihan kurban menghapus seluruh sembelihan, puasa Ramadhan menghapus seluruh puasa, mandi junub menghilangkan (menggugurkan) seluruh mandi, dan zakat menggugurkan seluruh sedekah. "

من أدرك رمضان وعليه من رمضان شيء لم يقضه لم يتقبل منه ومن صام تطوعا وعليه من رمضان شيء لم يقضه فإنه لايتقبل منه حتى يصومه (ضعيف)

"Barangsiapa mendapatkan Ramadhan, padahal ia masih berkewajiban mengqadha sebagian puasa yang terdahulu, maka tidaklah diterima puasanya. Dan siapa saja yang berpuasa sunnah, padahal dia masih berkewajiban membayar puasanya, maka puasa sunnah yang dilakukannya tidak diterima, hingga ia membayar puasa yang diutangnya."

ألا أخبركم بأفضل الملائكة جبريل عليه السلام وأفضل النبيين آدم وأفضل الأيام يوم الجمعة وأفضل الشهور شهر رمضان وأفضل الليالي ليلة القدر وأفضل النساء مريم بنت عمران (موضوع)

"Maukah kalian ku beri tahu bahwa malaikat yang paling utama adalah Jibril as., nabi yang paling utama adalah Adam, hari yang paling utama adalah jum'at, bulan yang paling utama adalah Ramadhan, malam yang paling utama adalah Lailatul Qadar, dan wanita yang paling utama adalah Maryam binti Imran. "

Sumber : Keluarga Besar Salafush sholih

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar