Rabu, 23 Maret 2011

Jihadnya Wanita ( bagian.2 )

JIHADNYA SEORANG WANITA DALAM MEMBELA ISLAM (Bagian 2) TAMAT


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

5-Tawakkal kepada Allah
Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman,
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ (الطلاق: 3)
“Barangsiapa bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS.  Ath- Thalaq : 3)
Tawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ini ada dua macam,
Pertama: Bertawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam memperoleh segala kebutuhan dan bagian dunia, atau bertawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam menolak segala yang tidak disenangi dari musibah-musibah dunia.
Kedua: Bertawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam mendapat apapun yang disukai dan diridhai. Berupa; iman, keyakinan, jihad, dan berdakwah.

Jika sang hamba bertawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala pada bagian kedua dari tawakkal ini, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala mencukupinya dari yang pertama secara sempurna. Dan jika ia hanya bertawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala pada bagian pertama saja tanpa yang kedua, ia tetap akan dicukupi, namun dampak positif dari tawakkal pada bagian kedua tidak akan didapatnya.[7]

6-Muhasabah (evaluasi diri)
Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anha berkata,
"حَاسِبُوْا أَنـْفـُسَكَمْ قَبْلَ أَنْ تُحاَسَبُوْا، وَزِنُـوْا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوْزَنُوْا، فَإِنَّهُ أَهْوَنُ عَلَيْكُمْ فِي الْحِسَابِ غَدًا أَنْ تُحاَسِبُوْا أَنْفُسَكُمُ الْيَوْمَ"[8]
“Koreksilah diri kalian sebelum kalian dikoreksi, timbang-timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang-timbang. Karena menghitung-hitung diri pada hari ini, lebih mudah bagi kalian daripada besok (hari kiamat).”
Saudaraku...
Muhasabah ini ada dua macam,
1.     Jika seseorang memikirkan baik-baik setiap keinginan yang hendak dikerjakannya. Ia tidak terburu-buru mengerjakan suatu perbuatan, sampai tahu dengan jelas bahwa mengerjakan perbuatan itu adalah lebih baik daripada meninggalkannya.
2.     Mengoreksi kembali dirinya setelah pekerjaan selesai. Hal ini terbagi menjadi tiga,
-           Mengoreksi diri atas ketaatan yang dikerjakannya tapi kurang sempurna.
-           Mengoreksi diri atas perbuatan, yang meninggalkannya adalah lebih baik daripada mengerjakannya.
-           Mengoreksi diri atas perkara-perkara mubah yang biasa dikerjakannya; untuk apa ia mengerjakan hal itu? Apakah ia mengerjakannya karena mengharap wajah Allah dan negeri akhirat, ataukah ia mengerjakannya hanya karena dunia?[9]

7-Kawan-kawan yang shalih
Dari Abu Musa Al-Asy`ari Radhiyallahu ‘anha bahwasanya nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda,
((إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السُّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً))[10]
“Perumpamaan kawan yang saleh dan kawan yang buruk, seperti penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Seorang penjual minyak wangi, kemungkinan akan memberi anda minyak wangi itu, atau anda membeli darinya, atau paling tidak anda mendapat bau harum darinya. Sedangkan seorang pandai besi, kemungkinan ia akan membakar baju anda, atau anda pasti mendapat bau yang busuk darinya.”
Jadi, memilih teman-teman salihah yang selalu membantu berbuat ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah suatu kewajiban bagi setiap wanita beriman. Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman,
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ (الكهف: 28)
“Dan bersabarlah kamu bersama orang-orang yang berdoa kepada Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap wajah-Nya.” (QS. Al-Kahfi: 28)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
"أَنْفَعُ النَّاسِ لَكَ مَنْ مَكَّنَكَ مِنْ نَفْسِهِ حَتَّى تَزْرَعَ فِيْهِ خَيْرًا، أَوْتَصْنَعُ لَهُ مَعْرُوْفاً، فَإِنَّهُ نِعْمَ الْعَوْنِ لَكَ عَلَى مَنْفَعَتِكَ وَكَماَلِكَ، فَانْتِفَاعُهُ بِكَ فِي الْحَقِيْقَةِ مِثْلُ اِنْتِفَاعِكَ بِهِ أَوْ أَكْثَرَ، وَأَضَرُّ الناَّسِ عَلَيْكَ مَنْ مَكَّنَ نَفْسَهُ مِنْكَ حَتَّى تَعْصِيَ اللهَ فِيْهِ، فَإِنَّهُ عَوْنٌ لَكَ عَلَى مَضَرَّتِكَ وَنَقْصِكَ"[11]
“Orang yang paling bermanfaat bagi anda, yaitu yang memberi kesempatan pada anda untuk menanam kebaikan pada dirinya, atau memberi kesempatan kepada anda untuk berbuat suatu kemakrufan padanya. Orang seperti inilah sebaik-baik penolong yang membuat anda menjadi berguna dan menjadi sempurna. Jadi, ketika ia mengambil manfaat dari anda, hakekatnya adalah anda yang mengambil manfaat darinya, atau bahkan lebih besar dari itu.
Sedangkan orang yang paling mencelakakan anda, adalah yang memberi kesempatan pada anda untuk berbuat maksiat kepada Allah Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Orang semacam inilah yang membantu anda mencelakakan diri anda, sehingga anda menjadi manusia yang banyak kekurangan.”

8-Al-Iqtida`:
Yaitu mengikut gerak-gerik ummahatul mukminin (para isteri nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam), dan para wanita salaf. Caranya dengan membaca riwayat hidup mereka, dan mempelajari sikap-sikap mereka dalam membela agama ini.

9-Tsiqah:
Tsiqah yaitu sangat yakin dengan datangnya pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berjanji akan memenangkan orang-orang yang menolong-Nya, sampai kapanpun. Dia Berfirman,
وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ (الحج: 40)
“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) -Nya.” (QS. Al-Hajj: 40)

10-Selalu mengingat mati, merenungi kenikmatan surga dan mengingat-ingat siksaan dalam neraka.
Hal ini perlu dilakukan. Sebab, orang yang mengingat mati, ia bakal beramal untuk kematian itu, dan beramal untuk hal-hal yang bakal dihadapinya setelah mati. Ia juga bakal menjauhkan hatinya dari ketergantungan dengan dunia.
Sedangkan siapapun yang selalu merenungkan kenikmatan surga yang bakal didapatnya, niscaya segala kesulitan yang dihadapinya menjadi ringan. Ia bakal mengorbankan segalanya; jiwa, harta, dan waktu, demi mencapai surga tersebut.
Dan siapapun yang senantiasa merenung siksaan dalam neraka, ia akan terus berusaha menjauhkan diri dari neraka itu dan mencari keselamatan darinya.

--------------------------------------------------------------------------------

[1]HR. Al-Bukhari dan Muslim.
[2]Al-Fawaid, Ibnul Qayyim, hlm. 97
[3]Al-Fawaaid, Ibnul Qayyim, hlm. 97
[4]HR. Al-Bukhari.
[5]Al-Fawaaid, Ibnul Qayyim, hlm. 97
[6]Lihat, Ishbir wa ihtasib, Abdul Malik Al-Qasem, hlm. 7
[7] Al-Fawaaid, Ibnul Qayyim, hlm. 86
[8] Sifat Ash-Shafwah, Ibnul Jauzi, 1/95
[9]Lihat, Mawaarid adz-Dzam`aan li duruus Az-Zamaan, Abdul Aziz As-Salman, 1/186
[10]Muttafaq `alaih.
[11]Al-Fawaaid, Ibnul Qayyim, hlm. 192
BUAH DAN HASIL DARI MENOLONG AGAMA ALLAH Subhanahu wa Ta’ala


1-Mendapatkan pahala yang terus menerus.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam telah memberitahukan hal ini kepada kita. Dari Abu Mas`ud, Uqbah bin Amru Al-Anshari Radhiyallahu ‘anha ia berkata, rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda,
((مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَـهُ مِثْلُ أَجْــرِ فَاعِلِهِ))[1]
“Barangsiapa menunjukkan suatu kebenaran (kepada orang lain), maka baginya seperti pahala orang yang mengerjakan kebaikan tersebut.”
Dan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anha bahwasanya rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda,
((مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلِ أُجُـوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئاً))[2]
“Barangsiapa mengajak kepada hidayah (petunjuk), maka pahala yang didapatnya seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.”

2-Mendapat hidayah dan taufiq dari Allah Subhanahu wa Ta’ala:
Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman,
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ (العنكبوت: 69)
“Dan orang-orang yang berjihad karena (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69)
Pada ayat diatas, Allah Subhanahu wa Ta’ala Menjelaskan bahwa hidayah (petunjuk) itu, bergantung kepada jihad. Sehingga orang yang paling sempurna hidayahnya, yaitu orang yang paling besar jihadnya. Dan jihad yang paling difardhukan (diwajibkan), yaitu jihad melawan hawa nafsu, jihad melawan syetan, dan jihad melawan dunia.
Barangsiapa berjihad karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala Menunjukinya jalan-jalan keridhoan yang menyampaikannya kepada surga. Dan barangsiapa meninggalkan jihad, ia pasti kehilangan hidayah sesuai dengan jihad yang ditinggalkannya.[3]

3-Mendapat kecintaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala:
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anha ia berkata, rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah Berfirman,
((مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْـتُهُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ...))[4]
“Barangsiapa memusuhi siapapun dari wali-Ku, maka Saya Mengumumkan peperangan dengannya. Dan tidak ada sesuatu paling Kucinta, yang dipergunakan hamba-Ku untuk mendekatkan diri kepada-Ku selain hal-hal yang kuwajibkan atasnya. Hamba-Ku akan senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan ibadah-ibadah nafilah sampai Saya Mencintainya.”

4-Dicintai dan diterima oleh banyak kalangan.
Hal ini disebutkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya yang berbunyi,
إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا (مريم: 96)
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam hati para manusia, rasa kasih sayang kepada mereka.” (QS. Maryam: 96)
Sedangkan dalam sebuah hadits, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anha dari nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam beliau bersabda,
((إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ، فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ، فَيُنَادِي جِبْرِيلُ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي أَهْلِ الْأَرْضِ))[5]
“Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai seorang hamba, Dia Memanggil Jibril dan Berfirman, ‘Sesungguhnya Allah Mencintai si Fulan, maka cintailah dia’. Lalu Jibril mencintai si fulan tersebut. kemudian Jibril berteriak kepada seluruh penduduk langit, ‘Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah Mencintai si Fulan, maka cintailah ia’, lalu seluruh penduduk langitpun mencintainya. Kemudian si fulan itu dijadikan diterima dan disukai oleh para penduduk di bumi.”

5-Doa tulus nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam kepadanya.
Dari Abu Mas`ud Radhiyallahu ‘anha ia berkata, saya mendengar rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda,
((نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا شَيْئًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَ فَرُبَّ مُبَلَّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ))[6]
“Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mencerahkan wajah orang yang mendengar hadits dari kami, kemudian ia menyampaikannya seperti apa yang didengarnya. Dan barangkali orang yang diberi hadits itu lebih pandai dari orang yang mendengar.”

6-Terlindungi dari segala keburukan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman,
إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ خَوَّانٍ كَفُورٍ (الحج: 38)
“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang berkhianat lagi mengingkari ni`mat.” (QS. Al-Hajj: 38)
Ayat ini adalah pemberitahuan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, sekaligus janji dan kabar gembira kepada orang-orang beriman, bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti melindungi mereka dari segala keburukan. Juga Menjaga mereka -disebabkan keimanan mereka- dari setiap keburukan orang-orang kafir. Menjaga mereka dari keburukan tipu daya syetan. Menjaga mereka dari keburukan diri, dan keburukan amal perbuatan mereka. Semua perlindungan ini akan diperoleh hamba beriman sesuai dengan kadar keimanannya. Jika imannya besar, perlindungannya akan besar pula. Jika kadar imannya sedikit, maka perlindungan yang didapatnya juga sedikit pula.

7-Maraknya suasana keilmuan di berbagai tempat:
Ketika seorang wanita melakukan dakwah di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, tentunya hal ini menyebabkan tersebarnya ilmu dalam bentuk yang lebih luas di kalangan para wanita. Sebagaimana berdakwah pada lingkup mereka, menyebabkan para wanita memiliki wawasan keilmuan yang tinggi, sehingga wanita-wanita lainnya bisa merujuk kepada mereka pada setiap masalah yang mereka temui, terutama hal-hal yang berkaitan dengan wanita.[7]

8-Munculnya kedudukan mulia bagi wanita:
Keikutsertaan wanita dalam membela agama dan berdakwah ini, membuat nampak kedudukan mulia para wanita dalam mengajarkan Islam, serta menumbuhkan kepercayaan tinggi dalam jiwa mereka. Sebab sang wanita yang berdakwah, merasakan adanya keadilan ilahi dalam masalah yang berkaitan dengan hak dan kewajiban. Dan tentunya hal ini merupakan bentuk pemuliaan Allah terhadap wanita agar ikut serta bersama kaum lelaki dalam khilafah Allah Subhanahu wa Ta’ala di bumi ini.[8]

9-Mengurangi kerusakan yang ada di bumi.
Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman,
وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الْأَرْضُ (البقرة: 251)
“Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini.” (QS. Al-Baqarah: 251)
Juga Berfirman,
وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللَّهِ كَثِيرًا (الحج: 40)
“Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah.” (QS. Al-Hajj: 40)

10-Mendapatkan kehidupan yang baik.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berjanji kepada setiap orang yang menetapi jalan lurus, bahwa baginya kehidupan yang baik di dunia dan akhirat. Dia Subhanahu wa Ta’ala Berfirman,
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً (النحل: 97)
“Barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.”  (QS. An-Nahl: 40)
Juga Berfirman,
فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى (طـه: 123)
“Barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” QS. Thaaha: 123)

--------------------------------------------------------------------------------

[1]HR. Muslim.
[2]HR. Muslim
[3]Al-Fawaaid, Ibnul Qayyim, hlm. 59
[4]HR. Al-Bukhari.
[5] Muttafaq `alaih.
[6] HR. At-Tirmidzi, ia berkata, ini adalah hadits hasan sahih.
[7] Lihat, majalah al-mutamayyizah, edisi. 8
[8] Idem.
SEBAB-SEBAB KENAPA SESEORANG MALAS MEMBELA AGAMA ALLAH Subhanahu wa Ta’ala

1-Ketergantungan yang sangat  kepada dunia:
Sebagian wanita mengetahui keutamaan dan pahala besar yang bakal ia dapatkan ketika membela agama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tetapi kecintaannya kepada dunia menghalanginya untuk membela agama ini. Sehingga ia tersibukkan dengan penampilan, harta, dan kawan-kawan. Inilah keadaan manusia yang digambarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya,
إِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ، وَإِنَّهُ عَلَى ذَلِكَ لَشَهِيدٌ، وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ (العاديات: 6-8)
“Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar kepada Tuhannya. Sesungguhnya dia, terhadap keingkarannya itu sangat menyaksikan. Dan sesungguhnya kepada harta, dia cinta sekali.” (QS. Al-Adiyat: 6-8)

2-Mencari kemuliaan pada selain agama Allah Subhanahu wa Ta’ala:
Sebagian wanita ada yang mencari kemuliaan dengan meniru gaya orang-orang kafir. Diantara mereka, juga ada yang mencari kemuliaan itu lewat harta dan jabatan. Dan diantara mereka ada yang mencari kemuliaan itu lewat hubungan sosialnya dengan masyarakat. Sungguh, mereka telah melalaikan ucapan Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anha yang berbunyi,
"نَحْنُ قَوْمٌ أَعَـزَّناَ اللهُ بِاْلإِسْلاَمِ، فَمَهْمَا اِبْتَغَيْناَ الْعِزَّةَ فِيْ غَيْرِهِ أَذَلَّناَ اللهُ"
“Kami adalah kaum yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan Islam. Maka, jika kita mencari kemuliaan itu pada selain Islam, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala menghinakan kita.”

3-Berputus Asa:
Sebagian wanita berputus asa untuk memperbaiki dirinya, padahal ia baru berusaha satu atau dua kali. Ia melalaikan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berbunyi,
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا (العنكبوت: 69)
“Dan orang-orang yang berjihad karena (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-Ankabut: 69)
Sedangkan beberapa wanita lainnya, jika mereka selamat dari penyakit ini, mereka tidak selamat dari penyakit yang lain, yaitu berputus asa dari memperbaiki masyarakat. Kalau sudah begini, dimanakah mereka dari dakwah para nabi dan rasul? Dimanakah mereka dari dakwah nabi Nuh Shallallahu ‘alaihi wa Salam, yang Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman tentangnya,
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا (العنكبوت: 14)
“Dan Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka selama seribu kurang lima puluh tahun.” (QS. Al-Ankabut: 14)
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala, saat mewajibkan dakwah kepada hamba-Nya, Dia tidak menuntut adanya penerimaan manusia kepada dakwah yang dilakukannya. Dia Subhanahu wa Ta’ala Berfirman,
وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ (النور: 54)
“Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang."” (QS. An-Nuur: 45)
Sebab, hati para hamba berada diantara dua jari dari jari-jari Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang Dia Membolak-balikkan hati mereka sekehendak-Nya, bagaimanapun cara-Nya.

4-Merendahkan diri sendiri dan membiarkannya tanpa aktifitas dakwah.
Sebagian wanita ada yang berkata, “Saya senang membela agama, tetapi saya tak pantas melakukannya. Saya tak punya ilmu, cepat lupa, dan... siapakah saya, kok berani-beraninya melakukan dakwah ini?!” Atau dia berkata, “Siapakah saya, sampai berupaya menjadi seseorang yang diikuti? Saya memiliki banyak kesalahan, ini dan itu...” lalu ia berdalil dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berbunyi,
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ، كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ (الصف: 2-3)
“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 2-3)
Jika dia malas berdakwah berdalil dua ayat diatas, maka kami menjawab ucapannya itu dengan pernyataan dibawah ini:
Bagi setiap orang ada dua kewajiban,
1.     Kewajiban seseorang terhadap dirinya, yaitu mengerjakan perintah dan menjauhi larangan.
2.     Kewajiban seseorang kepada orang lain, yaitu melakukan amar makruf dan nahi munkar.
Pada kedua ayat dalam surat Ash-Shaff tadi, tidak terdapat celaan pada seseorang yang mengerjakan kewajiban nomor dua diatas. Tetapi celaan pada kedua ayat tersebut, dikarenakan seseorang meninggalkan kewajiban nomor satu. Sedangkan meninggalkan salah satu kewajiban yang ada, tidak harus kewajiban yang dimaksud adalah kewajiban nomor dua. Jika perkaranya seperti ini, niscaya amar makruf dan nahi munkar tak akan berjalan di muka bumi.

5-Menganggap remeh perkara-perkara syubhat:
Dari An-Nu`man bin Basyir Radhiyallahu ‘anha ia berkata, rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda,
((إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُـوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ، كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيهِ أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلَا وَإِنَّ حِمَى اللَّهِ مَحَارِمُهُ))[1]
“Sesungguhnya halal itu jelas, haram itu jelas, dan diantara keduanya ada perkara-perkara syubhat (meragukan) yang tidak diketahui kebanyakan manusia. Barangsiapa menjauhi perkara-perkara syubhat, maka terbebaslah agama dan kehormatannya dari tuduhan. Tapi siapapun yang terjerumus dalam perkara meragukan itu, nisaya ia terjerumus ke dalam keharaman. Seperti penggembala yang menggembala kambing di sekitar daerah terlarang, yang hampir saja hewan gembala itu memasuki daerah tersebut. Ketahuilah! Setiap raja pasti memiliki daerah terlarang, sedangkan daerah terlarang Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah keharaman-keharaman-Nya.”
Imam Ibnu Daqiq Al-`Ied rahimahullah berkata mengenai sabda nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam,
((وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ))
“Tapi siapapun yang terjerumus dalam perkara meragukan itu, nisaya ia terjerumus ke dalam keharaman.”
Ia terjerumus ke dalam keharaman karena dua hal:
Pertama, siapapun yang tidak takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan nekad mengambil barang-barang meragukan tadi, niscaya perkara meragukan itu menjerumuskannya ke dalam keharaman. Sedangkan peremehannya terhadap hal ini mengakibatkannya berani menerjang barang-barang haram. Seperti perkataan para ulama,
"اَلصَّغِيْرَةُ تَجُرُّ الْكَبِيْرَةَ، وَاْلكَبِيْرَةُ تَجُرُّ الْكُفْرَ"
“Dosa kecil menarik datangnya dosa besar. Sedangkan dosa besar, mendatangkan kekufuran.”
Kedua, setiap orang yang banyak terjerumus dalam hal-hal syubhat (meragukan), niscaya hatinya menjadi hitam karena hilangnya cahaya ilmu dan wara`. Sehingga ia mudah terjerumus ke dalam keharaman sedang ia tak merasakan hal itu. Akhirnya ia berdosa jika hal itu menyebabkannya banyak berbuat kelalaian.[2]

6-Al-`Ajalah; terburu-buru.
Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman,
خُلِقَ الْإِنْسَانُ مِنْ عَجَلٍ (الأنبياء: 37)
“Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa.” (QS. Al-Anbiya`: 37)
Jadi! Manusia itu tabiatnya memang suka terburu-buru dan ingin segera mendapat hasil dari amal perbuatannya. Padahal membela agama ini membutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Karena itu wahai Ukhti! Janganlah anti terburu-buru ingin melihat hasil dakwah anti. Berikanlah hak pada setiap hal yang paling penting. Sebab, tergesa-gesa adalah penyebab terputusnya amal dan mendatangkan keputusasaan.


PENUTUP
Ukhti...
Pintu-pintu untuk menolong agama ini terbuka lebar dihadapan anti, bergegaslah memasukinya, singsingkan lengan baju anti, kembalikanlah sejarah Khadijah, Aisyah, dan Sumayyah ridhwanullahi alaihin.
Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar kita semua berguna bagi islam dan kaum muslimin, semoga Dia Menjadikan kita sebagai kunci-kunci pembuka kebaikan dan penutup keburukan, semoga Dia Memberi hidayah kita, dan Memberi hidayah orang lain lewat kita, sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Dialah Sebaik-baik Pelindung dan Sebaik-baik Penolong.
Ya Allah... berilah shalawat atas nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam, keluarga dan para sahabat, serta berilah salam kepada mereka.

--------------------------------------------------------------------------------
[1] HR. Muslim
[2] Syarah Arba`in An-Nawawiyah, Ibnu Daqiq Al-Ied, hlm. 88

TAMAT

Sumber :

دَوْرُ الْمَرْأَةِ فِيْ نُصْرَةِ الدِّيْنِ
JIHADNYA SEORANG WANITA DALAM MEMBELA ISLAM

Syaikh Muram binti Shalih al-’Athiyyah
Muraja’ah :Syaikh DR. Fu’ad ’Abdul Karim Al-’Abdul Karim
Islam kaffah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar