Selasa, 22 Maret 2011

Sejarah Turunnya Al-Qur'an (Bagian 3)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ


Ciri-Ciri Ayat-Ayat Makkiyah dan Madaniyyah
Makkiyah
• Ayat-ayatnya pendek.
• Diawali dengan yâ ayyuhan-nâs (wahai manusia).
• Kebanyakan mengandung masalah tauhid, iman
kepada Allah Swt., masalah surga dan neraka, dan masalah-masalah yang menyangkut kehidupan akhirat (ukhrawi).

Madaniyah
• Ayat-ayatnya panjang.
• Diawali dengan yâ ayyuhalladzîna âmanû (wahai
orang-orang yang beriman).
• Kebanyakan tentang hukum-hukum agama (syariat), orang-orang yang berhijrah (muhajirin) dan kaum penolong (anshar), kaum munafik, serta ahli kitab.



Nabi Muhammad saw. menerima wahyunya yang pertama di sebuah gua benama Gua Hira. Gua tersebut terletak di pegunungan sekitar Kota Mekah. Wahyu yang pertama kali beliau terima adalah lima ayat pertama surat Al Qur’an. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 17 Ramadhan (6 Agustus 610), yaitu ketika Nabi Muhammad saw. berusia 40 tahun. Rasulullah saw. menyampaikan Al Qur’an secara lang sung kepada para sahabatnya –orang-orang Arab asli– sehingga mereka dapat memahaminya berdasarkan naluri mereka. Jika mereka mengalami ketidakjelasan dalam memahami suatu ayat, mereka menanyakan langsung kepada Rasulullah saw. Al Bukhari dan Muslim meriwayatkan sebuah riwayat dari Ibnu Mas’ud. “Ketika ayat ini turun (surat Al An’âm, ayat 82) yang artinya, ‘Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik .... Para sahabat gelisah dan khawatir kemudian bertanya kepada Rasulullah, ‘Ya, Rasulullah siapakah di antara kita yang tidak berbuat zalim pada dirinya sendiri?’ Nabi menjawab, ‘Kezaliman di sini tidak seperti yang kamu pahami. Tidakkah kamu pernah mendengar apa yang dikata kan oleh seorang hamba yang saleh, ‘... Sesungguhnya menyekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.’ (QS Luqman, 31:3.)” Jadi, yang dimaksud kezaliman adalah kemusyrikan. Ini adalah salah satu cara menafsirkan ayat yang diajarkan oleh Rasulullah, yakni menafsirkan satu ayat dengan ayat yang lain. Rasulullah saw. juga pernah menafsirkan kepada para sahabat beberapa ayat, seperti disampaikan Muslim dari Uqbah bin Amir Al Juhani. Dia berkata sebagai berikut. Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda di atas mimbar, ’Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki ... Al Anfâl, 8: 60).’ Lalu beliau bersabda, ‘Ingatlah bahwa kekuatan yang dimaksud di sini adalah memanah.’” Inilah yang menjadi dasar salah satu ilmu tafsir ayat ditafsirkan dengan hadits. Para sahabat, pada masa itu, sangat antusias untuk menerima Al Qur’an, menghafal, dan memahaminya. Amalan tersebut merupakan kehormatan bagi mereka. Dikatakan oleh Annas r.a., “Seseorang di antara kami telah membaca dan menghafal surat Al Baqarah dan Âli Imrân. Orang itu menjadi besar menurut pandangan kami. Diriwayatkan dari Abu Abdurrahman As Sulami sebagai berikut. Mereka yang membacakan Al Qur’an kepada kami, seperti Utsman bin Aff an, Abdullah bin Mas’ud, serta yang lain menceritakan bahwa mereka bila belajar dari Nabi saw. SEPULUH AYAT, tidak akan melanjutkannya lagi sebelum mengamalkan ilmu dan amal yang ada di dalamnya. Mereka berkata, ‘Kami mempelajari Al Qur’an berikut ilmu dan amalnya sekaligus.’”Dari riwayat-riwayat ini, terlihat bahwa menghafal Al Qur’an dan mempelajarinya tidak akan efektif jika tidak diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Al Qur’an tidak akan memberikan manfaat optimal dalam meraih ridha-Nya jika hanya dihafal di tenggorokan saja.

Periode Turunnya Al-Quran
Al-Quran Al-Karim yang terdiri dari 114 surah dan susunannya ditentukan oleh Allah SWT. dengan cara tawqifi, tidak menggunakan metode sebagaimana metode-metode penyusunan buku-buku ilmiah. Buku-buku ilmiah yang membahas satu masalah, selalu menggunakan satu metode tertentu dan dibagi dalam bab-bab dan pasal-pasal. Metode ini tidak terdapat di dalam Al-Quran Al-Karim, yang di dalamnya banyak persoalan induk silih-berganti diterangkan.

Persoalan akidah terkadang bergandengan dengan persoalan hukum dan kritik; sejarah umat-umat yang lalu disatukan dengan nasihat, ultimatum, dorongan atau tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di alam semesta. Terkadang pula, ada suatu persoalan atau hukum yang sedang diterangkan tiba-tiba timbul persoalan lain yang pada pandangan pertama tidak ada hubungan antara satu dengan yang lainnya. Misalnya, apa yang terdapat dalam surah Al-Baqarah ayat 216-221, yang mengatur hukum perang dalam asyhur al-hurum berurutan dengan hukum minuman keras, perjudian, persoalan anak yatim, dan perkawinan dengan orang-orang musyrik.
Yang demikian itu dimaksudkan agar memberikan kesan bahwa ajaran-ajaran Al-Quran dan hukum-hukum yang tercakup didalamnya merupakan satu kesatuan yang harus ditaati oleh penganut-penganutnya secara keseluruhan tanpa ada pemisahan antara satu dengan yang lainnya. Dalam menerangkan masalah-masalah filsafat dan metafisika, Al-Quran tidak menggunakan istilah filsafat dan logika. Juga dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan. Yang demikian ini membuktikan bahwa Al-Quran tidak dapat dipersamakan dengan kitab-kitab yang dikenal manusia.
Tujuan Al-Quran juga berbeda dengan tujuan kitab-kitab ilmiah. Untuk memahaminya, terlebih dahulu harus diketahui periode turunnya Al-Quran. Dengan mengetahui periode-periode tersebut, tujuan-tujuan Al-Quran akan lebih jelas.
Para ulama ‘Ulum Al-Quran membagi sejarah turunnya Al-Quran dalam dua periode: (1) Periode sebelum hijrah; dan (2) Periode sesudah hijrah. Ayat-ayat yang turun pada periode pertama dinamai ayat-ayat Makkiyyah, dan ayat-ayat yang turun pada periode kedua dinamai ayat-ayat Madaniyyah. Tetapi, di sini, akan dibagi sejarah turunnya Al-Quran dalam tiga periode, meskipun pada hakikatnya periode pertama dan kedua dalam pembagian tersebut adalah kumpulan dari ayat-ayat Makkiyah, dan periode ketiga adalah ayat-ayat Madaniyyah. Pembagian demikian untuk lebih menjelaskan tujuan-tujuan pokok Al-Quran.

Periode Pertama
Diketahui bahwa Muhammad saw., pada awal turunnya wahyu pertama (iqra’), belum dilantik menjadi Rasul. Dengan wahyu pertama itu, beliau baru merupakan seorang nabi yang tidak ditugaskan untuk menyampaikan apa yang diterima. Baru setelah turun wahyu kedualah beliau ditugaskan untuk menyampaikan wahyu-wahyu yang diterimanya, dengan adanya firman Allah: “Wahai yang berselimut, bangkit dan berilah peringatan” (QS 74:1-2).

Kemudian, setelah itu, kandungan wahyu Ilahi berkisar dalam tiga hal. Pertama, pendidikan bagi Rasulullah saw., dalam membentuk kepribadiannya. Perhatikan firman-Nya: Wahai orang yang berselimut, bangunlah dan sampaikanlah. Dan Tuhanmu agungkanlah. Bersihkanlah pakaianmu. Tinggalkanlah kotoran (syirik). Janganlah memberikan sesuatu dengan mengharap menerima lebih banyak darinya, dan sabarlah engkau melaksanakan perintah-perintah Tuhanmu (QS 74:1-7).
Dalam wahyu ketiga terdapat pula bimbingan untuknya: Wahai orang yang berselimut, bangkitlah, shalatlah di malam hari kecuali sedikit darinya, yaitu separuh malam, kuranq sedikit dari itu atau lebih, dan bacalah Al-Quran dengan tartil (QS 73:1-4).
Perintah ini disebabkan karena Sesungguhnya kami akan menurunkan kepadamu wahyu yang sangat berat (QS 73:5).
Ada lagi ayat-ayat lain, umpamanya: Berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat. Rendahkanlah dirimu, janganlah bersifat sombong kepada orang-orang yang beriman yang mengikutimu. Apabila mereka (keluargamu) enggan mengikutimu, katakanlah: aku berlepas dari apa yang kalian kerjakan (QS 26:214-216).
Demikian ayat-ayat yang merupakan bimbingan bagi beliau demi suksesnya dakwah.
Kedua, pengetahuan-pengetahuan dasar mengenai sifat dan af’al Allah, misalnya surah Al-A’la (surah ketujuh yang diturunkan) atau surah Al-Ikhlash, yang menurut hadis Rasulullah “sebanding dengan sepertiga Al-Quran”, karena yang mengetahuinya dengan sebenarnya akan mengetahui pula persoalan-persoalan tauhid dan tanzih (penyucian) Allah SWT.
Ketiga, keterangan mengenai dasar-dasar akhlak Islamiah, serta bantahan-bantahan secara umum mengenai pandangan hidup masyarakat jahiliah ketika itu. Ini dapat dibaca, misalnya, dalam surah Al-Takatsur, satu surah yang mengecam mereka yang menumpuk-numpuk harta; dan surah Al-Ma’un yang menerangkan kewajiban terhadap fakir miskin dan anak yatim serta pandangan agama mengenai hidup bergotong-royong.
Periode ini berlangsung sekitar 4-5 tahun dan telah menimbulkan bermacam-macam reaksi di kalangan masyarakat Arab ketika itu. Reaksi-reaksi tersebut nyata dalam tiga hal pokok:

Segolongan kecil dari mereka menerima dengan baik ajaran-ajaran Al-Quran.
Sebagian besar dari masyarakat tersebut menolak ajaran Al-Quran, karena kebodohan mereka (QS 21:24), keteguhan mereka mempertahankan adat istiadat dan tradisi nenek moyang (QS 43:22), dan atau karena adanya maksud-maksud tertentu dari satu golongan seperti yang digambarkan oleh Abu Sufyan: “Kalau sekiranya Bani Hasyim memperoleh kemuliaan nubuwwah, kemuliaan apa lagi yang tinggal untuk kami.”
Dakwah Al-Quran mulai melebar melampaui perbatasan Makkah menuju daerah-daerah sekitarnya.
Periode Kedua
Periode kedua dari sejarah turunnya Al-Quran berlangsung selama 8-9 tahun, dimana terjadi pertarungan hebat antara gerakan Islam dan jahiliah. Gerakan oposisi terhadap Islam menggunakan segala cara dan sistem untuk menghalangi kemajuan dakwah Islamiah.

Dimulai dari fitnah, intimidasi dan penganiayaan, yang mengakibatkan para penganut ajaran Al-Quran ketika itu terpaksa berhijrah ke Habsyah dan para akhirnya mereka semua –termasuk Rasulullah saw.– berhijrah ke Madinah.
Pada masa tersebut, ayat-ayat Al-Quran, di satu pihak, silih berganti turun menerangkan kewajiban-kewajiban prinsipil penganutnya sesuai dengan kondisi dakwah ketika itu, seperti: Ajaklah mereka ke jalan Tuhanmu (agama) dengan hikmah dan tuntunan yang baik, serta bantahlah mereka dengan cara yang sebaik-baiknya (QS 16:125).
Dan, di lain pihak, ayat-ayat kecaman dan ancaman yang pedas terus mengalir kepada kaum musyrik yang berpaling dari kebenaran, seperti: Bila mereka berpaling maka katakanlah wahai Muhammad: “Aku pertakuti kamu sekalian dengan siksaan, seperti siksaan yang menimpa kaum ‘Ad dan Tsamud” (QS 41:13).
Selain itu, turun juga ayat-ayat yang mengandung argumentasi-argumentasi mengenai keesaan Tuhan dan kepastian hari kiamat berdasarkan tanda-tanda yang dapat mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari, seperti: Manusia memberikan perumpamaan bagi kami dan lupa akan kejadiannya, mereka berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-tulang yang telah lapuk dan hancur?” Katakanlah, wahai Muhammad: “Yang menghidupkannya ialah Tuhan yang menjadikan ia pada mulanya, dan yang Maha Mengetahui semua kejadian. Dia yang menjadikan untukmu, wahai manusia, api dari kayu yang hijau (basah) lalu dengannya kamu sekalian membakar.” Tidaklah yang menciptakan langit dan bumi sanggup untuk menciptakan yang serupa itu? Sesungguhnya Ia Maha Pencipta dan Maha Mengetahui. Sesungguhnya bila Allah menghendaki sesuatu Ia hanya memerintahkan: “Jadilah!”Maka jadilah ia (QS 36:78-82).
Ayat ini merupakan salah satu argumentasi terkuat dalam membuktikan kepastian hari kiamat. Dalam hal ini, Al-Kindi berkata: “Siapakah di antara manusia dan filsafat yang sanggup mengumpulkan dalam satu susunan kata-kata sebanyak huruf ayat-ayat tersebut, sebagaimana yang telah disimpulkan Tuhan kepada Rasul-Nya saw., dimana diterangkan bahwa tulang-tulang dapat hidup setelah menjadi lapuk dan hancur; bahwa qudrah-Nya menciptakan seperti langit dan bumi; dan bahwa sesuatu dapat mewujud dari sesuatu yang berlawanan dengannya.”7
Disini terbukti bahwa ayat-ayat Al-Quran telah sanggup memblokade paham-paham jahiliah dari segala segi sehingga mereka tidak lagi mempunyai arti dan kedudukan dalam rasio dan alam pikiran sehat.

Periode Ketiga
Selama masa periode ketiga ini, dakwah Al-Quran telah dapat mewujudkan suatu prestasi besar karena penganut-penganutnya telah dapat hidup bebas melaksanakan ajaran-ajaran agama di Yatsrib (yang kemudian diberi nama Al-Madinah Al-Munawwarah). Periode ini berlangsung selama sepuluh tahun, di mana timbul bermacam-macam peristiwa, problem dan persoalan, seperti: Prinsip-prinsip apakah yang diterapkan dalam masyarakat demi mencapai kebahagiaan? Bagaimanakah sikap terhadap orang-orang munafik, Ahl Al-Kitab, orang-orang kafir dan lain-lain, yang semua itu diterangkan Al-Quran dengan cara yang berbeda-beda?

Dengan satu susunan kata-kata yang membangkitkan semangat seperti berikut ini, Al-Quran menyarankan: Tidakkah sepatutnya kamu sekalian memerangi golongan yang mengingkari janjinya dan hendak mengusir Rasul, sedangkan merekalah yang memulai peperangan. Apakah kamu takut kepada mereka? Sesungguhnya Allah lebih berhak untuk ditakuti jika kamu sekalian benar-benar orang yang beriman. Perangilah! Allah akan menyiksa mereka dengan perantaraan kamu sekalian serta menghina-rendahkan mereka; dan Allah akan menerangkan kamu semua serta memuaskan hati segolongan orang-orang beriman (QS 9:13-14).
Adakalanya pula merupakan perintah-perintah yang tegas disertai dengan konsiderannya, seperti: Wahai orang-orang beriman, sesungguhnya minuman keras, perjudian, berhala-berhala, bertenung adalah perbuatan keji dari perbuatan setan. Oleh karena itu hindarilah semua itu agar kamu sekalian mendapat kemenangan. Sesungguhnya setan tiada lain yang diinginkan kecuali menanamkan permusuhan dan kebencian diantara kamu disebabkan oleh minuman keras dan perjudian tersebut, serta memalingkan kamu dari dzikrullah dan sembahyang, maka karenanya hentikanlah pekerjaan-pekerjaan tersebut (QS 5:90-91).
Disamping itu, secara silih-berganti, terdapat juga ayat yang menerangkan akhlak dan suluk yang harus diikuti oleh setiap Muslim dalam kehidupannya sehari-hari, seperti: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki satu rumah selain rumahmu kecuali setelah minta izin dan mengucapkan salam kepada penghuninya. Demikian ini lebih baik bagimu. Semoga kamu sekalian mendapat peringatan (QS 24:27).
Semua ayat ini memberikan bimbingan kepada kaum Muslim menuju jalan yang diridhai Tuhan disamping mendorong mereka untuk berjihad di jalan Allah, sambil memberikan didikan akhlak dan suluk yang sesuai dengan keadaan mereka dalam bermacam-macam situasi (kalah, menang, bahagia, sengsara, aman dan takut). Dalam perang Uhud misalnya, di mana kaum Muslim menderita tujuh puluh orang korban, turunlah ayat-ayat penenang yang berbunyi: Janganlah kamu sekalian merasa lemah atau berduka cita. Kamu adalah orang-orang yang tinggi (menang) selama kamu sekalian beriman. Jika kamu mendapat luka, maka golongan mereka juga mendapat luka serupa. Demikianlah hari-hari kemenangan Kami perganti-gantikan di antara manusia, supaya Allah membuktikan orang-orang beriman dan agar Allah mengangkat dari mereka syuhada, sesungguhnya Allah tiada mengasihi orang-orangyang aniaya (QS 3:139-140).
Selain ayat-ayat yang turun mengajak berdialog dengan orang-orang Mukmin, banyak juga ayat yang ditujukan kepada orang-orang munafik, Ahli Kitab dan orang-orang musyrik. Ayat-ayat tersebut mengajak mereka ke jalan yang benar, sesuai dengan sikap mereka terhadap dakwah. Salah satu ayat yang ditujukan kepada ahli Kitab ialah: Katakanlah (Muhammad): “Wahai ahli kitab (golongan Yahudi dan Nasrani), marilah kita menuju ke satu kata sepakat diantara kita yaitu kita tidak menyembah kecuali Allah; tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, tidak pula mengangkat sebagian dari kita tuhan yang bukan Allah.” Maka bila mereka berpaling katakanlah: “Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang Muslim” (QS 3:64).

1. Selama Periode Mekah



Kendati diwahyukan secara lisan, Al-Qur'an sendiri secara konsisten menyebut sebagai kitab tertulis. Ini memberi petunjuk bahwa wahyu tersebut tercatat dalam tulisan. Pada dasarnya ayat-ayat Al-Qur'an tertulis sejak awal perkembangan Islam, meski masyarakat yang baru lahir itu masih menderita berbagai permasalahan akibat kekejaman yang dilancarkan oleh pihak kafir Quraish. Berikut cerita `Umar bin al-Khattab sejak ia masuk Islam yang akan kita pakai sebagai penjelasan masalah ini:



Suatu hari ‘Umar keluar rumah menenteng pedang terhunus hendak melibas leher Nabi Muhammad. Beberapa sahabat sedang berkumpul dalam sebuah rumah di bukit Safa. Jumlah mereka sekitar empat puluhan termasuk kaum wanita. Di antaranya adalah paman Nabi Muhammad, Hamza, Abu Bakr, 'All, dan juga lainnya yang tidak pergi berhijrah ke Ethiopia. Nu'aim secara tak sengaja berpapasan dan bertanya ke mana ‘Umar hendak pergi. "Saya hendak menghabisi Muhammad, manusia yang telah membuat orang Quraish khianat terhadap agama nenek moyang dan mereka tercabik-cabik serta ia (Muhammad) mencaci maki tata cara kehidupan, agama, dan tuhan-tuhan kami. Sekarang akan aku libas dia." "Engkau hanya akan menipu diri sendiri `Umar, katanya." "Jika engkau menganggap bahwa ban! `Abd Manaf mengizinkanmu menapak di bumi ini hendak memutus nyawa Muhammad, lebih baik pulang temui keluarga anda dan selesaikan permasalahan mereka." `Umar pulang sambil bertanya-tanya apa yang telah menimpa ke­luarganya. Nu'aim menjawab, "Saudara ipar, keponakan yang bernama Sa`id serta adik perempuanmu telah mengikuti agama baru yang dibawa Nabi Muhammad. Oleh karena itu, akan lebih baik jika anda kembali menghubungi mereka." `Umar cepat-cepat memburu iparnya di rumah, tempat Khabba sedang membaca Surah Taha dari sepotong tulisan Al-­Qur'an. Saat mereka dengar suara ‘Umar, Khabba lari masuk ke kamar kecil, sedang Fatima mengambil kertas kulit yang bertuliskan Al-Qur' an dan diletakkan di bawah pahanya... 1




Kemarahan ‘Umar semakin membara begitu mendengar saudara­saudaranya masuk Islam. Keinginan membunuh orang yang beberapa saat sebelum itu la tuju semakin menjadi jadi. Masalah utama dalam cerita ini berkaitan dengan kulit kertas bertulisan Al-Qur'an, Menurut Ibn 'Abbas ayat­ayat yang diturunkan di Mekah terekam dalam bentuk tulisan sejak dari sana,2 seperti dapat dilihat dalam ucapan az-Zuhri.3 'Abdullah bin Sa'd bin 'Abi as­Sarh, seorang yang terlibat dalam penulisan Al-Qur'an sewaktu dalam periode ini,4 dituduh oleh beberapa kalangan sebagai pemalsu ayat-ayat Al-Qur'an (suatu tuduhan yang seperti telah saya jelaskan sama sekali tak berdasar).5 Orang lain sebagai penulis resmi adalah Khalid bin Sa'id bin al-‘As di mana ia menjelaskan, "Saya orang pertama yang menulis 'Bismillah ar-Rahman ar­Rahim' (Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang).6



Al-Kattani mencatat peristiwa ini: Sewaktu Rafi` bin Malik al-Ansari menghadiri baiah al-'Aqaba, Nab! Muhammad menyerahkan semua ayat-ayat yang diturunkan pada dasawarsa sebelumnya. Ketika kembali ke Madinah, Rafi` mengumpulkan semua anggota sukunya dan membacakan di depan mereka.7



2. Selama Periode Madinah



i. Penulis Wahyu Nabi Muhammad


Pada periode Madinah kita memiliki cukup banyak informasi termasuk sejumlah nama, lebih kurang enam puluh lima sahabat yang ditugaskan oleh Nabi Muhammad bertindak sebagai penulis wahyu. Mereka adalah Abban bin Sa'id, Abu Umama, Abu Ayyub al-Ansari, Abu Bakr as-Siddiq, Abu Hudhaifa, Abu Sufyan, Abu Salama, Abu 'Abbas, Ubayy bin Ka'b, al-Arqam, Usaid bin al-Hudair, Aus, Buraida, Bashir, Thabit bin Qais, Ja` far bin Abi Talib, Jahm bin Sa'd, Suhaim, Hatib, Hudhaifa, Husain, Hanzala, Huwaitib, Khalid bin Sa'id, Khalid bin al-Walid, az-Zubair bin al-`Awwam, Zubair bin Arqam, Zaid bin Thabit, Sa'd bin ar-Rabi`, Sa'd bin `Ubada, Sa'id bin Sa`id, Shurahbil bin Hasna, Talha, `Amir bin Fuhaira, `Abbas, `Abdullah bin al-Arqam, `Abdullah bin Abi Bakr, `Abdullah bin Rawaha, `Abdullah bin Zaid, `Abdullah bin Sa'd,

'Abdullah bin 'Abdullah, 'Abdullah bin 'Amr, 'Uthman bin 'Affan, Uqba, al­'Ala bin 'Uqba, 'All bin Abi Talib, 'Umar bin al-Khattab, 'Amr bin al-'As, Muhammad bin Maslama, Mu'adh bin Jabal, Mu'awiya, Ma'n bin 'Adi, Mu'aqib bin Mughira, Mundhir, Muhajir, dan Yazid bin Abi Sufyan.8

ii. Nabi Muhammad  Mendiktekan AI-Qur' an



Saat wahyu turun, Nabi Muhammad secara rutin memanggil para penulis yang ditugaskan agar mencatat ayat itu.9 Zaid bin Thabit menceritakan sebagai ganti atau mewakili peranan dalam Nabi Muhammad, la sering kali dipanggil diberi tugas penulisan saat wahyu turun.10 Sewaktu ayat al-jihad turun, Nabi Muhammad memanggil Zaid bin Thabit membawa tinta dan alat tulis dan kemudian mendiktekannya; 'Amr bin Um-Maktum al-A'ma duduk menanyakan kepada Nabi Muhammad, "Bagaimana tentang saya? Karena saya sebagai orang yang buta." Dan kemudian turun ayat, "ghair uli al-darar"11 (bagi orang­orang yang bukan catat).12 Tampaknya tak ada bukti pengecekan ulang setelah mendiktekan. Saat tugas penulisan selesai, Zaid membaca ulang di depan Nabi Muhammad agar yakin tak ada sisipan kata lain yang masuk ke dalam teks.13



iii. Tradisi Penulisan Al-Qur'an di Kalangan Sahabat



Praktik yang biasa berlaku di kalangan para sahabat tentang penulisan AI­Qur'an, menyebabkan Nabi Muhammad melarang orang-orang menulis sesuatu darinya kecuali Al-Qur'an, "dan siapa yang telah menulis sesuatu dariku selain Al-Qur'an, maka la harus menghapusnya."14 Beliau ingin agar Al-Qur'an dan hadith tidak ditulis pada halaman kertas yang sama agar tidak terjadi campur aduk serta kekeliruan. Sebenarnya bagi mereka yang tak dapat menulis selalu hadir juga di masjid memegang kertas kulit dan minta orang lain secara suka rela mau menuliskan ayat Al-Qur'an.15 Berdasarkan kebiasaan Nabi Muhammad memanggil juru tulis ayat-ayat yang baru turun, kita dapat menarik anggapan bahwa pada masa kehidupan beliau seluruh Al-Qur'an sudah tersedia dalam bentuk tulisan.



3. Susunan Al-Qur'an



i. Susunan Ayat ke dalam Surah



Diakui secara umum bahwa susunan ayat dan surah dalam Al-Qur'an memiliki keunikan yang luar biasa. Susunannya tidak secara urutan saat wahyu diturunkan dan subjek bahasan. Rahasianya hanya Allah Yang Mahatahu, karena Dia sebagai pemilik kitab tersebut. Jika seseorang akan bertindak sebagai editor menyusun kembali kata-kata buku orang lain misalnya, mengubah urutan kalimat akan mudah memengaruhi seluruh isinya. Hasil akhir tidak dapat diberikan pada pengarang karena hanya sang pencipta yang berhak mengubah kata-kata dan materi guna menjaga hak-haknya.


Demikian halnya Kitab Allah, karena Dia sebagai pencipta tunggal clan Dia sendiri yang memiliki wewenang mutlak menyusun seluruh materi. Al­Qur'an sangat tegas dalam masalah ini:


"Sesungguhnya atas tanggungan Kami mengumpulkan (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacanya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kami menjelaskannya.”16


Maka guna menjelaskan isi kandungan ayat-ayat itu, Allah menugaskan Nabi Muhammad sebagai penerima mandat. Dalam hal ini Al-Qur' an memberi penjelasan,

"Dan Kami telah turunkan kepada engkau (Muhammad) berupa peringatan agar engkau menjelaskan kepada manusia apa-apa yang telah diturunkan pada mereka."17



Hak istimewa ini, Allah berikan wewenang atau hak otoritas pada Nabi Muhammad agar memberi penjelasan pada umatnya.18 Hanya Nabi Muhammad, melalui keistimewaan dan wahyu ketuhanan, yang dianggap mampu menyusun ayat-ayat ke dalam bentuk keunikan Al-Qur'an sesuai kehendak dan rahasia Allah. Bukan komunitas Muslim secara kolektif dan bukan pula perorangan memiliki legitimasi kata akhir dalam menyusun Kitab Allah.


Kitab Al-Qur'an mencakup surah-surah panjang dan yang terpendek terdiri atas 3 ayat, sedangkan paling panjang 286 ayat. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa Nabi Muhammad memberi instruksi kepada para penulis tentang letak ayat pada setiap surah. `Uthman menjelaskan baik wahyu itu mencakup ayat panjang maupun satu ayat terpisah, Nabi Muhammad selalu memanggil penulisnya clan berkata, "Letakkan ayat-ayat tersebut ke dalam surah sepetrti yang beliau sebut."19 Zaid bin Thabit menegaskan, "Kami akan kumpulkan Al-Qur'an di depan Nabi Muhammad."20 Menurut `Uthman bin Abi al-'As, Malaikat Jibril menemui Nabi Muhammad memberi perintah akan penempatan ayat tertentu.21
’Uthman bin AM al-‘As melaporkan bahwa saat sedang duduk bersama Nabi Muhammad ketika beliau memalingkan padangan pada satu titik dan kemudian berkata, "Malaikat Jibril menemuiku dan meminta agar menempatkan ayat ini:

22 pada bagian surah tertentu.23



AI-Kalbi melaporkan dari Abu Sufyan tentang Ibn ‘Abbas tentang ayat,

"Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah."24.



Ia menjelaskan, "Ini adalah ayat terakhir yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad. Malaikat Jibril turun dan minta meletakannya setelah ayat ke dua ratus delapan puluh dalam Surah al-Baqarah."25



Ubbay bin Ka'b menjelaskan, "Kadang-kadang permulaan surah itu diwahyukan pada Nabi Muhammad, kemudian saya menuliskannya, dan wahyu yang lain turun pada beliau lalu berkata, "Ubbay! Tulislah ini dalam surah yang menyebut ini dan itu.' Dalam kesempatan lain wahyu diturunkan pada beliau dan saya menunggu perintah yang hendak diberi­kan sehingga beliau memberi tahu tempat yang sesuai dari suatu ayat.26



Zaid bin Thabit memberi penjelasan, "Sewaktu kami bersama Nabi Muhammad mengumpulkan Al-Qur'an kertas kulit beliau berkata, "Mudah-mudahan Sham mendapat berkah"27 Kemudian beliau ditanya, 'Mengapa demikian wahai Nabi Allah?' Beliau menjawab, 'Karena para Malaikat yang Maha Rahman telah melebarkan sayap mereka kepada­nya."28 Dalam hadith ini kita catat Nabi Muharnmad selalu melakukan pengawasan dalam pengumpulan dan susunan ayat-ayat Qur'an


Kita dapat melihat bukti yang sangat jelas bahwa bacaan surah dalam shalat lima waktu. Tidak boleh bacaan umum menyalahi urutan ayat-ayat yang telah disepakati dan tidak pernah terjadi peristiwa shalat berjamaah akan adanya perbedaan pendapat dengan imam tentang urutan ayat-ayat baik di masa Nabi Muhammad maupun sekarang. Nabi Muhammad kadang-kadang membaca satu surah sampai habis pada shalat jum'ah.29
Bukti lain dapat dilacak dari beberapa hadith yang mengatakan kepada sahabat telah mengenal permulaan dan akhiran surah-surah yang ada.

Nabi Muhammad memberi komentar kepada ‘Umar, "Akhir ayat-ayat dari Surah an-Nisa' akan dianggap cukup buatmu (dalam menyelesaikan masa]ah warisan). "30



Abu Mas'ud al-Badri memberi laporan bahwa Nabi Muhammad bersabda, 'Ayat terakhir dari Surah al-Baqarah dapat mencukupi bagi siapa saja yang membaca di waktu malam."31


Ibn `Abbas mengingatkan, "Sewaktu saya bermalam di rumah, Maimuna (istri Nabi Muhammad), saya mendengar beliau terbangun dari tidur lalu membaca sepuluh ayat terakhir dari Surah `Ali ‘Imran."32

Catatan :
1. Ibn Hisham, Sira, vol.l-2, hlm. 343-46.

2. Ibn Durais, Fada'il AI-Qur'an, hlm. 33.

3. Az-Zuhri, Tanzil AI-Qur'an, 32; Ibn Kathir, al-Bidaya v: 340, Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 22.
4. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 22.

5. Untuk lebih jelas, harap dilihat M.M. al-A'zami, Kuttab an-Nabi, Edisi ke-3, Riyad, 1401 (1981), hlm.83-89.
6. As-Suyuti, ad-Dur al-Manthur, i: 11.
7. Al-Kattani, al-Tarat76 al-Idariya, 1: 44, dengan mengutip pendapat Zubair bin Bakkar, Akhbar al-Madina.
8. Untuk lebih jelas harap dilihat M.M, A'zami, Kuttab an-Nabi.
9. Abu 'Ubaid , Fada'il, hlm. 280; Lihat juga Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 22, mencatat pendapat `Uthman dengan merujuk pada Sunan at-Tirmidhi, an-Nasa'i, Abu Dawud, dan al-Hakim dalam al­Mustadrak.

10. Ibn AM Dawud, al-Masahif, hlm.3; Lihat juga al-Bukhari, Sahih, Fada'il Al-Qur'an: 4.
11. Qur'an, 4: 95.

12. Ibn Hajar, Fath al Bari , ix: 22; as-Sa'ati, Minhat al-Ma'bud, ii: 17.
13. As-Suli, Adab ul-Kuttab, hlm. 165; al-Haithami, Majma` az-Zawaid, i: 52.
14. Muslim, Sahih, az-Zuhd: 72; juga lihat Ibn Dawud, al-Masahif, hlm. 4. Untuk lebih terperinci dapat dilihat M.M. al-A'zami, Studies in Early Hadith Literature, American Trust Publications, Indiana, 198768, hlm. 22-24.
15. Lihat al-Baihaqi, Sunan al-Kubra, vi: 16.

16. Qur'an, 75: 17-19.
17. Qur'an, 16:44.

18. Sebagaimana tersebut sebelumnya, dalam hal ini Sunnah nabi berfungsi sebagai penegasan terhadap Al-Qur'an di mana baik secara lisan mau pun praktik di bawah asuhan atau bimbingan Allah ft. Tak ada seorang pun yang dapat memiliki hak wewenang untuk menolak posisinya yang benar.
19. Lihat at-Tirmidhi, Sunan, no.3086; juga al-Baihaqii ii: 42, Ibn Hanbal, Musnad, i: 69, Abu Dawud, Sunan, i: 290; al-Hakim, al-Mustadrak, i:221, Ibn Hajar, Fathul Biri, ix: 22; Lihat juga Abu 'Ubaid, Fada'il, hlm. 280.
20. Lihat at-Tirmidhi, Sunan, Manaqib:141, no.39 Lihat at-Tirmidhi, Sunan, Manaqib:141,
no.39. Lihat at-Tirmidhi, Sunan, Manaqib:l41, no.3954; Ibn Hanbal, Musnad, v:185; al-Hakim, a!­Mustadrak, ii: 229.

21. As-Suyuti, al-ltqan, i: 173.
22. Qur'an, 16: 90.


23 Ibn Hanbal, Musnad, iv: 218, no. 17947; Lihat juga as-Suydti, a!-Itqan, i:173.
24. Qur'an, 2: 281.

25 Al-Baqilani, al-lntisar, hlm. 176.
26. Ibid. hlm. 176.

27. Syam adalah Suria, Yordania, dan Lebanon (Sekarang).
28. Al-Baqilani, al-lntisar, hlm. 176-7.


29. Muslim, Sahih, Jumu'a: 52.
30. Muslim, Sahih, al-Fara'id: 9.

31.  Al-Bukhari, Sahih, Fada'il AI-Qur'an:10.
32. Al-Bukhari, Sahih, al-Wudu':37; Muslim, Sahih, Mufassirin, no. 182. Untuk lebih jelasnya harap dilihat Muslim, Kitab al-Tamyiz, diedit oleh M.M. al-A'zami, hlm. 183-5.

ii. Penyusunan Surah



Beberapa sumber menuduh bahwa mushaf33 yang digunakan Ubay bin Ka'b dan Ibn Mas'ud memperlihatkan kelainan dalam susunan surah berdasarkan pada aturan universal. Akan tetapi kita tidak melihat sumber lain adanya perbedaan dalam perintah meletakkan ayat-ayat dalam surah tertentu. Keunikan susunan Al-Qur'an memberi peluang tiap surah berfungsi sebagai satuan bebas, independen unit, di mana tidak terdapat kronologi atau sumber cerita lain yang masuk ke dalam naskah. Oleh sebab itu, tiap perubahan dalam urutan surah dianggap tidak benar. Adanya perbedaan itu (jika benar ada), isi kandungan risalah tetap terjamin. Adanya variasi susunan ayat-ayat merupakan masalah lain. Kita bersyukur tak ada mushaf yang berlainan dan tak ada seorang pun yang dapat menerima perubahan.



Para ulama sepakat bahwa mengikuti susunan surah dalam AI-Qur' an bukan suatu kemestian, baik dalam shalat, bacaan, belajar, pengajaran maupun hafalan.34 Setiap surah berdiri sendiri dan tidak ada satu pun yang turun ke­mudian dapat mengklaim memiliki legalitas lebih besar dari yang sebelumnya; kadang-kadang ayat yang telah dimansukh terdapat dalam sebuah surah di mana yang berikutnya tercatat sebagai nasikh atau pengganti. Sebagian umat Islam mulai menghafal AL-Qur'an dari surah pendek (no. 114, 113, ...) dan begitu seterunya ke belakang. Nabi Muhammad pernah membaca Surah al­Baqarah, an-Nisa', dan kemudian 'Ali-`Imran (surah No.2, 4, 3), secara berun­tun dalam satu raka'at,35 tidak seperti yang kita lihat dalam susuan Al-Qur'an.


Sejauh yang saya ketahui, tak ada hadith yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad membuat ketetapan melarang umatnya mengambil surah tertentu secara tidak berurutan. Pendapat yang berbeda dapat disimpulkan sebagai berikut:

Susunan semua surah seperti yang ada, selalu merujuk pada Nabi Muhatnmad sendiri.36 Ini pendapat yang saya ikuti. Pendapat lain mengatakan terdapat perbedaan susunan dalam mushaf yang dimiliki beberapa sahabat seperti Ibn Mas'ud dan Ubayy bin Ka'b) yang lain dari mushaf yang ada di tangan umat Islam.37



Sementara kalangan ada yang berpendapat bahwa seluruh Qur'an (susun­annya) diatur oleh Nabi Muhammad kecuali surah no.9, yang dilakukan oleh `Uthman.38



Pendapat lain menganggap susunan semua surah dibuat oleh Zaid bin Thabit, `Uthman, dan sahabat lainnya. Al-Baqillani cenderung menerima pendapat ini.39


Ibn 'Atiyya mendukung pendapat bahwa Nabi Muhammad menyusun beberapa surah dan lainnya diserahkan pada para sahabat beliau.40

iii. Susunan Surah Dalam Beberapa Mushaf


Pendapat para ulama mengatakan bahwa susunan surah yang ada sekarang identik dengan Mushaf 'Uthmani.41 Setiap orang yang berkeinginan mengopi Al-Qur'an secara keseluruhan diharuskan mengikuti urutan yang ada, dan bagi yang hendak mengopi surah tertentu, mengikuti susunan seperti yang tampak pada Mushaf 'Uthmani tidaklah wajib. Sebuah analogi dapat diambil saat saya bepergian naik pesawat; di mana saya ingin membawa pekerjaan namun ingin mengangkut satu jilid tebal dalam bag, maka saya hanya mengopi sebagian yang saya perlukan selama perjalanan.
Di masa lampu mushaf ditulis di atas kertas kulit, dan biasanya lebih berat timbangannya dari kertas biasa. Maka mushaf seluruhnya mencapai beberapa kilogram berat. Kita memiliki beberapa contoh AI-Qur' an yang tertulis dalam kaligrafi besar dan satu mushaf lengkap akan melebihi satu meter panjangnya.
Melihat mushaf yang dicetak oleh penerbit Raja Fahd di Madinah sebagai standard ukuran utama, ia akan dapat mencapai enam ribu halaman (lebih kurang 9000 baris). Hal yang sangat menarik, semua naskah dalam kertas kulit seperti terlihat pada gambar 5.2 hanya setengah baris dari mushaf cetakan Madinah. Artinya seluruh mushaf jika tertulis dalam ukuran itu akan memerlukan 18,000 halaman. Kaligrafi berjilid-jilid tentu saja jarang didapat, akan tetapi secara umum hal itu menunjukkan bahwa yang disebut mushaf terdiri dari banyak surah. Semua rak buku di perpustakaan di seluruh dunia akan dipenuhi bagian­bagian dari mushaf tertulis. Daftar di bawah ini sekadar beberapa contoh yang terdapat di satu perpustakaan, the Salar Jung museum di Hyerabad, India.42


No.
Manuskrip
 No.
Surah
 Susunan Surah
 Tanggal43

244
 29
 36, 48, 55, 56, 62, 67, 75, 76, 78, 93, 94, 72, 97, dan 99 - 114.
 ± awal abad ke-11

246 16 62 ( 8 ayat pertama saja ), 110, 1, 57, 113, 56, 94, 114, 64, 48, 47, 89, 112, 36, 78 dan 67.
 naskah ± awal abad
ke-10 dan akhir abad ke-11

247 10 1, 36, 48, 56, 67, 78,109, dan 112-114

248 9 73, 51, 67, 55, 62, 109, dan 112-114
 1076 H. (= 1666 M.)

249 9 17, 18, 37, 44, 50, 69, 51, 89 dan 38
 1181 H.(= 1767 M.)

250 9 20, 21, 22, 63,dan 24 - 28
 ± awal abad ke-12

251 8 6, 36, 48, 56, 62, 67, 76 dan 78
 ± awal abad ke 11

252 8 1, 6, 18, 34, 35, 56, 67 dan 78
 ± awal abad ke-11

255 8 1, 36, 48, 55, 67, 73, 56 dan 78
 ±  awal abad ke-14

253 8 36, 48, 56, 62, 67, 71, 73 dan 78
 ± akhir abad ke-11

254 7 1, 55, 56, 62, 68, 73 dan 88
 ± akhir abad ke-12

256 7 36, 48, 78, 56, 67, 55 dan 73
 ± awal abad ke-11
257 7 36, 48, 78, 67, 56, 73 dan 62
 ±  pertengahan abad ke-11
258 7 18, 32, 36, 48, 56, 67 dan 78
 ± akhir abad ke-11
259 7 18, 36, 37, 48, 56, 67 dan 78
 ± akhir abad ke-11
260 7 36, 48, 56, 67, 78, 55 dan 62
 ± akhir abad ke-12
261 7 36, 48, 78, 56, 67, 55 dan 73
 ± akhir abad ke-13
262 6 1, 36, 48, 56, 67 dan 78
 ± 1115 H (= 1704 M)

263 6 36, 48, 55, 56, 67 dan 68
 ± 1278 H. (= 1862 M)

264 644 1, 36, 48, 56, 78 dan 67
 ± akhir abad ke-10

265 645 18, 36, 71, 78, 56 dan 67
 ± akhir abad ke-13

266 6 36, 55, 56, 62, 63 dan 78
 ± 989 H. (= 1581 M)

267 5 36, 48, 56, 67 dan 78
 ± 1075 H.(= 1664 M)

268 5 36, 48, 56, 67 dan 78
 ± 1104 H.(= 1692 M.)

270 5 36, 48, 56, 67 dan 78
 ± 1106 H.(= 1694 M.)

271 5 36, 48, 67, 72 dan 78
 ± 1198 H.(= 1783 M.)

272 5 36, 48, 56, 67 dan 78
 ± 1200 H.(= 1786 M.)

273 5 36, 48, 55, 56 dan 67
 1237 H.

275 5 36, 78, 48, 56 dan 67
 ± 626 H. (= 1228 M.)

279 5 36, 48, 56, 67 dan 78
 Di salin oleh Yaqut al­ Musta'simi

280 5 1, 6, 18, 34 dan 35
 ± 1084 H.(= 1673 M.)

281 5 36, 48, 56, 59 dan 62
 ± awal abad ke-10

282 5 1, 6, 18, 34 dan 35
 ± awal abad ke-10

284 5 6, 36, 48, 56 dan 67
 ± akhir abad ke-10

296 5 18, 36, 44, 67 dan 78
 ± awal abad ­ke 12

308 4 6, 18, 34 dan 35
 ± akhir abad ke-9

310 4 6-9
 ± akhir abad ke-12


Dari sini kita akan dapat mengambil kesimpulan bahwa barangsiapa hendak menulis sebagian mushaf dapat dilihat pada perpustakaan tempat surah yang ada disusun, seperti yang dapat dilihat pada tabel.
Dengan memahami keperluan dokumentasi tiap ayat, masyarakat Muslim yang telah mencapai urutan huffaz telah membuat sistem hafalan sebagai penangkal pengaruh yang merusak. Pada periode Mekah dengan laju pe­nindasan yang begitu kuat tidak mampu memunahkan Al-Qur' an yang pada akhirnya, umat Islam menikmati kemajuan di Madinah baik yang melek huruf maupun yang buta ikut ambil bagian dalam menghafal AI-Qur'an. Di tengah mereka (bangsa) tersebut tinggal rasul terakhir (Muhammad) yang men­diktekan, menjelaskan, menyusun ayat melalui inspirasi ketuhanan dengan status privilege (hak istimewa) dirinya, seluruh ayat Al-Qur'an di dalamnya menjadi sempurna. Bagaimanakah teks suci ini kemudian dipelihara setelah wafatnya Nabi Muhammad %%% dan bagaimana bangsa itu mencurahkan segala upaya memelihara keutuhan Al-Qur' an, ini merupakan fokus utama dalam bab berikut.
Catatan :
33. Secara harfiyyah arti pengumpulan kertas di sini adalah kertas kulit (parchments) yang tertulis di atasnya ayat AI-Qur'an, lihat hlm.84-85.

34. Al_Baqilani, al-lntisar, hlm. 167.
35. Muslim, Sahih, Musafirin, no.203.
36. Lihat as-Suyuti, al-Itqan, i:176-77; Lihat juga Abu Dawiid, Sunan, no.786.
37. Lihat bab ke 13, yang secara khusus membicarakan mushaf Ibn Mas'ud.

38. As-Suyuti, al-Itqan, i:177. Mengutip pendapat al-Baihaqi, Madkhal. Lihat juga Abu Dawud, Sunan, no.786.
39. Al_Baqiani, al-Intisar, hlm.166.

40. lbn ‘Atiyya, al-Muharrar, al-Wajiz, i:34-35.
41. Lihat bab ketujuh.

42. Muhammad Ashraf, A Catalogue of Arabic Manuscripts in Sa/ah Jung Museum & Library, hlm. 166-234.
43. Beberapa mushaf tertulis tanggal penulisan sedang yang lain tanpa tanggal.
44. Enam Surah dengan beberapa doa menurut akidah Syiah
45. Sebagai tambahan kepada beberapa doa berdasarkan akidah Syiah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar